Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya...
Sebuah blog pengingat diri dan penebar kebaikan bagi sesama