Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya pada Sang Pencipta, memohon agar hari ini, esok hari dan seterusnya dapat kembali pulang dan menolong lebih banyak orang.
Ia kemudian keluar
ruangan, berjalan menyusuri rak-rak buku yang tertata rapi menuju halaman
depan, menghampiri seseorang, tempat semua perasaannya tercurahkan, ia menamainya
sebagai ‘sahabat’ karena memang begitu adanya. Kaduanya saling menatap,
kemudian tersenyum tipis. “Kamu yakin ingin ikut?” Tanya Pemuda berusia 25
tahun itu dengan raut muka khawatir pada Gadis 22 tahun yang terbalut jilbab
panjang hingga seolah tubuhnya tenggelam. “Yakin Mas” jawab Sang Gadis dengan
sangat lantang dan tanpa keraguan. Pemuda itu hanya tersenyum, tak ada satu
patah katapun yang keluar, ia paham betul bahwa sahabatnya itu akan selalu
melakukan hal yang ia suka dengan penuh keyakinan, meskipun sudah diberi
nasihat panjang kali lebar tak akan mungkin dihiraukan jika sudah menyangkut kesukaannya.
Gadis itu sedang tergila-gila untuk menolong orang lain. Apa saja akan
dilakukannya selama dia bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Sampai akhirnya
sahabatnya, yang tak lain dan tidak bukan pemuda dengan tangan kasar itu
menawarkannya untuk bergabung di sebuah komunitas sosial kemanusiaan. Tentu Gadis
itu tak akan menolak tawaran sahabatnya, tanpa berpikir panjang, Gadis itu menerima
tawaran berharga sepanjang 22 tahun hidupnya hingga di sinilah ia sekarang. Terlebih
yang menawarkannya adalah seorang pemuda yang sudah sangat dekat dengannya, keduanya
bersahabat sudah sejak lama, kurang lebih 9 tahun lamanya mereka bersama-sama.
Gadis 22 tahun itu
kemudian berpamitan, hanya dengan ucapan salam pemuda itu sudah paham, jika
sahabatnya akan segera beranjak menggunakan sepeda hitam yang sudah berkarat
dari apa yang sering mereka sebut sebagai “markas”. Pemuda itu hanya menatap
gadis itu sambil sesekali melambaikan tangan, tanda perpisahan pada sahabatnya.
Gadis itu hilang dalam sekejap mata dari pandangan Sang Pemuda. Sementara di
sisi bumi lainnya, Gadis dengan jilbab panjang dan tas ranselnya mengayuh
sepeda dengan senyum sumringahnya dan sesekali bernyanyi lirih, khawatir orang
lain akan mengira ia benar-benar sudah gila. Suasana hatinya sedang dalam
kondisi paling baik sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak? Ia menjadi salah satu
relawan yang akan dikirim ke pelosok Papua untuk membantu saudaranya yang
kesulitan mengakses air bersih. Meskipun tugasnya hanya menanak nasi tapi itu
cukup baginya. Toh tanpa nasi para relawan tak akan berenergi membangun dan
menampung air bersih di pelosok sana, terlebih menanak nasi juga butuh keahlian
dalam tiap takarannya, ia yakin ia cukup membantu, dan pikirannya itulah yang
membuatnya semakin yakin untuk melibatkan diri.
Gadis itu masih
mengayuh sepeda yang menemaninya sejak maba menuju ke asramanya. Tersisa kurang lebih 1 KM lagi menuju tempat
istirahat ternyamannya. Ia berhenti ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna
merah menyala saat melewati perempatan terakhir menuju asrama, ia mengambil
nafas panjang untuk menghirup oksigen lebih banyak, menyegarkan
paru-parunya. Tiba-tiba saja ingatannya terputar kembali, ingatan tentang
nasihat-nasihat dari seorang yang akrab dipanggil Bapak olehnya. Ia mengingat
bagaimana Bapaknya menolong orang lain sepanjang hidupnya, seingatnya Bapaknya tidak pernah tidak menolog orang lain meski hanya sehari saja. Bahkan hari dimana
Bapaknya tiada, gadis itu melihat Bapaknya memungut sampah di depan jalan SD di
dekat rumahnya. Gadis itu paham betul jika Bapaknya melakukannya agar Sang Penjaga
SD tak kelelahan memunguti sampah yang terus berserakan sepanjang hari karena
murid-murid itu terus membeli jajan. Tanpa diminta Gadis itu membantu Bapaknya,
memunguti sampah-sampah yang sebenarnya terasa menjijikkan baginya. Tapi
melihat raut laki-laki di seberangnya ia tetap membantu mengambil sampah-sampah itu.
Terdengar kalimat pernyataan dari lelaki berusia 56 tahun itu “kalau kamu rajin
menolong oranglain, Allah juga bakalan sering ngasih pertolongan dari arah yang
tidak disangka-sangka. Jangan khawatir, Allah yang tolong.” Ia menatap lelaki
itu seraya menganggukan kepalanya.
Lampu lalu lintas kembali
hijau, tak terasa air mata sudah membasahi pipi gadis itu, matanya sudah membentuk
bendungan, dan tumpahannya mengalir seperti air mancur. Tatapannya
mengisyaratkan kerinduan yang amat tak tertahankan. Ia mengingat bagaimana
Bapaknya mengajarkannya untuk membantu orang lain, bahkan dalam hal yang
terlihat ringan dan kecil, atau mungkin tidak terlihat sama sekali. Wajar baginya jika kesempatan seperti menanak nasi di Papua ini
tak akan pernah ia sia-siakan. Jikapun Allah mengizinkannya untuk terbang dan
menanak nasi di sana, ia akan membawa beras paling baik dari lumbung milik
ibunya. Ia akan melakukan yang terbaik hingga nasi itu tak mengecawakan relawan
yang akan membantu mengalirkan air bersih di pelosok Papua sana. Nasi yang
pulen, nasi yang bergizi, nasi yang membawa keberkahan dalam tiap energi yang
diberikan.
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar