Langsung ke konten utama

Menanak Nasi di Pelosok Papua

    Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya pada Sang Pencipta, memohon agar hari ini, esok hari dan seterusnya dapat kembali pulang dan menolong lebih banyak orang.  

     Ia kemudian keluar ruangan, berjalan menyusuri rak-rak buku yang tertata rapi menuju halaman depan, menghampiri seseorang, tempat semua perasaannya tercurahkan, ia menamainya sebagai ‘sahabat’ karena memang begitu adanya. Kaduanya saling menatap, kemudian tersenyum tipis. “Kamu yakin ingin ikut?” Tanya Pemuda berusia 25 tahun itu dengan raut muka khawatir pada Gadis 22 tahun yang terbalut jilbab panjang hingga seolah tubuhnya tenggelam. “Yakin Mas” jawab Sang Gadis dengan sangat lantang dan tanpa keraguan. Pemuda itu hanya tersenyum, tak ada satu patah katapun yang keluar, ia paham betul bahwa sahabatnya itu akan selalu melakukan hal yang ia suka dengan penuh keyakinan, meskipun sudah diberi nasihat panjang kali lebar tak akan mungkin dihiraukan jika sudah menyangkut kesukaannya. Gadis itu sedang tergila-gila untuk menolong orang lain. Apa saja akan dilakukannya selama dia bisa membantu orang lain yang membutuhkan. Sampai akhirnya sahabatnya, yang tak lain dan tidak bukan pemuda dengan tangan kasar itu menawarkannya untuk bergabung di sebuah komunitas sosial kemanusiaan. Tentu Gadis itu tak akan menolak tawaran sahabatnya, tanpa berpikir panjang, Gadis itu menerima tawaran berharga sepanjang 22 tahun hidupnya hingga di sinilah ia sekarang. Terlebih yang menawarkannya adalah seorang pemuda yang sudah sangat dekat dengannya, keduanya bersahabat sudah sejak lama, kurang lebih 9 tahun lamanya mereka bersama-sama.

    Gadis 22 tahun itu kemudian berpamitan, hanya dengan ucapan salam pemuda itu sudah paham, jika sahabatnya akan segera beranjak menggunakan sepeda hitam yang sudah berkarat dari apa yang sering mereka sebut sebagai “markas”. Pemuda itu hanya menatap gadis itu sambil sesekali melambaikan tangan, tanda perpisahan pada sahabatnya. Gadis itu hilang dalam sekejap mata dari pandangan Sang Pemuda. Sementara di sisi bumi lainnya, Gadis dengan jilbab panjang dan tas ranselnya mengayuh sepeda dengan senyum sumringahnya dan sesekali bernyanyi lirih, khawatir orang lain akan mengira ia benar-benar sudah gila. Suasana hatinya sedang dalam kondisi paling baik sepanjang hidupnya. Bagaimana tidak? Ia menjadi salah satu relawan yang akan dikirim ke pelosok Papua untuk membantu saudaranya yang kesulitan mengakses air bersih. Meskipun tugasnya hanya menanak nasi tapi itu cukup baginya. Toh tanpa nasi para relawan tak akan berenergi membangun dan menampung air bersih di pelosok sana, terlebih menanak nasi juga butuh keahlian dalam tiap takarannya, ia yakin ia cukup membantu, dan pikirannya itulah yang membuatnya semakin yakin untuk melibatkan diri.

    Gadis itu masih mengayuh sepeda yang menemaninya sejak maba menuju ke asramanya. Tersisa  kurang lebih 1 KM lagi menuju tempat istirahat ternyamannya. Ia berhenti ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah menyala saat melewati perempatan terakhir menuju asrama, ia mengambil nafas panjang untuk menghirup oksigen lebih banyak, menyegarkan paru-parunya. Tiba-tiba saja ingatannya terputar kembali, ingatan tentang nasihat-nasihat dari seorang yang akrab dipanggil Bapak olehnya. Ia mengingat bagaimana Bapaknya menolong orang lain sepanjang hidupnya, seingatnya Bapaknya tidak pernah tidak menolog orang lain meski hanya sehari saja. Bahkan hari dimana Bapaknya tiada, gadis itu melihat Bapaknya memungut sampah di depan jalan SD di dekat rumahnya. Gadis itu paham betul jika Bapaknya melakukannya agar Sang Penjaga SD tak kelelahan memunguti sampah yang terus berserakan sepanjang hari karena murid-murid itu terus membeli jajan. Tanpa diminta Gadis itu membantu Bapaknya, memunguti sampah-sampah yang sebenarnya terasa menjijikkan baginya. Tapi melihat raut laki-laki di seberangnya ia tetap membantu mengambil sampah-sampah itu. Terdengar kalimat pernyataan dari lelaki berusia 56 tahun itu “kalau kamu rajin menolong oranglain, Allah juga bakalan sering ngasih pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka. Jangan khawatir, Allah yang tolong.” Ia menatap lelaki itu seraya menganggukan kepalanya.

    Lampu lalu lintas kembali hijau, tak terasa air mata sudah membasahi pipi gadis itu, matanya sudah membentuk bendungan, dan tumpahannya mengalir seperti air mancur. Tatapannya mengisyaratkan kerinduan yang amat tak tertahankan. Ia mengingat bagaimana Bapaknya mengajarkannya untuk membantu orang lain, bahkan dalam hal yang terlihat ringan dan kecil, atau mungkin tidak terlihat sama sekali. Wajar baginya jika kesempatan seperti menanak nasi di Papua ini tak akan pernah ia sia-siakan. Jikapun Allah mengizinkannya untuk terbang dan menanak nasi di sana, ia akan membawa beras paling baik dari lumbung milik ibunya. Ia akan melakukan yang terbaik hingga nasi itu tak mengecawakan relawan yang akan membantu mengalirkan air bersih di pelosok Papua sana. Nasi yang pulen, nasi yang bergizi, nasi yang membawa keberkahan dalam tiap energi yang diberikan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...