
Mengapa
sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”.
Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar.
Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama
orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga
nanti.
Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.
Detik
ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku
menulis tulisan ini. Biarpun ikhtiar yang tengah kita lalui selalu berdampingan
dengan pengorbanan. Biarpun risiko mampu menampik harapan, tapi yang masih
selalu terekam dalam memori ialah kebersamaan, kesungguhan, kejujuran,
kegigihan, tanggungjawab, dan do’a-do’a yang tak pernah surut. Meskipun cobaan singgah
tiada henti menguji hati yang lemah oleh laku dan kata, kau, aku, dan kita
harus senantiasa tetap tegar dan mampu menguatkan iman, meski datangnya tak
disangka-sangka. Sekalipun pahit dirasa tapi ada tanggungjawab yang harus
dituntaskan karena kita sudah terlanjur memulai semuanya. Kalau saja hati sedang terkuras, pikir sedang
terbuyar, ingatlah bahwa istirahat hanya milik orang-orang yang akan masuk surga
nantinya.
Jalan yang meliuk sudah kita lalui, dalam malam yang hening menunggu
esok yang entah mendung atau cerah aku masih seperti aku yang sama, yang berdo’a
agar kita bisa menyentuh kemenangan yang nyata. Kemenangan yang datang karena
ridho Allah SWT. Semoga jika tidak di dunia, berarti di akhirat-Nya aamiin.
Maka berkat rahmat Allah lah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal. (59) Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkanmu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang bisa menolongmu setelah itu? Karena itu, hendaklah hanya kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (Q.S Ali Imran: 59-60).
Komentar
Posting Komentar