Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.
Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.
Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-menyeret dalam kebaikan, kebaikan yang akan terus dialirkan ke muara bernama cinta. Cinta yang tumbuh dari Sang Maha Cinta, oleh karena itu cinta itupun tumbuh hanya karena satu alasan yaitu cinta karena-Nya.
Ustadz Salim A Fillah dalam bukunya "Bahagia Merayakan Cinta"
'Maka tangan saling berpaut dan jemarinya menyatu,Genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta!”
Disaat apapun barakah itu membawakan kebahagiaan. Sebuah letup kebahagiaan di hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal, dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu memberi suasana lain dan mencurahkan keceriaan musim semi, apapun masalah yang sedang membadai rumah tangga kita. Barakah itu membawakan senyum meski air mata menitik – nitik. Barakah itu meyergapkan rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di saat dada kita sesak oleh masalah.Barakallaahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta.'
Sebagai seorang single jiwa jombloku cukup menggeliat membacanya. Syukurnya Allah bentangkan rasa lapang di dada, kesabaran, dan tuntutan tanggungjawab yang masih harus lebih dulu aku selesaikan. Penantian memang menjadi masa yang penuh uji coba. Tinggal kita mau pilih yang mana, lulus dengan sabar atau sebaliknya.
Lebih-lebih setan itu akalnya tiada tergerus pula. Mungkin karena ia sudah cukup tua, sudah cukup ahli dalam urusan mengusik hidup manusia. Kata Ustadzku, saat kita masih menjaga hati, berusaha sekuat tenaga, untuk tak mudah menjatuhkan hati sebelum ada ikatan suci, setan akan menggoda. Ia terus membumbui bisikan-bisikannya. Ia sematkan betapa manis senyum orang yang sedang ada di pikir kita, ia ubah hati yang gundah jadi rindu membuncah, ia gemar menyuplai rasa hingga seolah semua yang terjadi mengarah pada tanda bahwa jodoh kita sudah di depan mata. Kalau sudah begini hati tak tertahan lagi, ingin rasanya segera memiliki. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, suasana hati berganti-ganti. Maka dapat aku pastikan, orang yang lulus dari fase ini keren banget ma syaa Allah.
Ustadzku juga pernah bilang, katanya jangan senang dulu pas sudah menjadi halal. Terlebih menikah bukan hanya soal "menghalalkan yang haram" mengubah haram menjadi halal. Bukan, ustadz bilang menikah adalah ibadah terlama, dan melakukan ibadah yang lama adalah potensi setan-setan menggubris kedua insan yang saling menyayangi. Katanya, saat dua insan bersama, setan tiada henti terus menggoda manusia, ia bisikan bahwa cinta harus menjadi benci, sabar harus jadi berapi-api, senyumnya yang indah sudah tak enak dipandang lagi, segala macam tentangnya jadi terasa hambar, buyar, membosankan. Itulah kinerja setan. Sukanya memutarbalikkan fakta, menggoda dan bersemangat mengajak ke nyala api neraka.
Akan tetapi ada do'a yang senantiasa disematkan pada kedua mempelai di hari bahagianya. Do'a-do'a yang semoga dikabulkan oleh Sang Maha Pengabul Do'a. 'Tiga perayaan cinta’ yang sungguh unik dan penuh makna. Seperti yang dituliskan Ustadz Salim A Fillah, perayaan cinta yang diambil dari potongan do’a yang dipanjatkan ketika menghadiri sebuah walimahan. Baarakallahu laka wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainnakuma fii khaiir.
Perayaan pertama “baarakallahu laka.. semoga Allah mengaruniakan barakah kepadamu” dilukiskan dalam bingkai besar cintamu, sehangat ciuman bidadari. Perayaan kedua “wa baaraka ‘alaika.. semoga Allah mengaruniakan barakah atasmu” digambarkan dalam badai, dekap aku lebih erat. Perayaan ketiga “wa jama’a bainnakuma fii khaiir.. semoga Allah himpun kalian berdua dalam kebaikan dalam bingkai genggam tanganku, rasakan kekuatan cinta. Lengkap sudah sebuah do’a yang berarti sangat mulia. Buku yang dikhususkan membahas sebuah ‘proses pernikahan’ dengan sangat runtut, dimulai dari awal penggambaran sepasang pengantin baru hingga beragam pembahasan seputar pasca pernikahan yang beraneka rasa.
Menikah, bahagianya merayakan cinta bertujuan mengharap adanya barakah. Barakah yang mampu menghimpun semua pengaharapan yang sejatinya berujung pada kebaikan. Harapan layaknya terucap sakinah mawaddah wa rahmah yang merupakan bagian pengiring dari barakah. Barakah sebagai bertambahnya kebaikan dalam setiap kejadian yang kita alami waktu demi waktu. Semakin akrabnya kita dengan Allah.
'Menakjubkan sungguh urusan orang beriman. Segala perkaranya adalah kebaikan. Dan itu tidak terjadi kecuali pada orang yang beriman. Jika mendapat nikmat maka ia bersyukur, dan syukur itu baik baginya. Jika ditimpa musibah dia bersabar, dan sabar itu baik baginya.' (H.r. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Entah apa yang merasukiku, menulis tentang pernikahan tapi bahkan umur saja belum genap 20 tahun. Tak apa, tulisan ini merupakan wujud bahagiaku atas bahagianya Mba Maryam merayakan cintanya. Mungkin hanya ini yang bisa wawah tuliskan, tidak panjang dan mungkin terdapat banyak kesalahan. Tapi sekali lagi baraakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainnakuma fii khaiir. Ada banyak harapan yang tersemat dari tulisan adik onlinemu ini. Jazakillahu khair atas diskusi indah, cerita bahagia, nasihat-nasihat baik, dan segala yang pernah kita lalui via online. Cari aku, saat kau tak temukanku di surga nanti - Wawah, 22 Desember 2019.
Komentar
Posting Komentar