Langsung ke konten utama

Restu



Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu.

Udara pantai pada malam itu begitu dingin.  Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak kardigan-kardigan itu. Entahlah, apakah itu layak disebut sebuah kardigan atau pakaian berlubang yang seharusnya sudah dimuseumkan.

Dingin dan sesak, itulah yang dirasakan dua gadis itu. Mereka tengah terduduk diantara tawa canda ombak dan pasir, diantara kicauan karang dan bebatuan, diantara keramaian ikan dan penghuni laut lain. Seorang gadis tengah menguatkan diri. Ia ingin sekali membisikkan sesuatu pada gadis di sebelahnya, namun sejak sore mereka berdua hanya mematung. Diam tanpa sepatah katapun, padahal mereka tak sedang berlomba merebut emas. Hingga akhirnya, hembusan nafas panjang pada pukul 20.00 WIB mengakhiri kesunyian diantara dua manusia itu. Salah satu gadis memecah keheningan dengan berdeham, kemudian ia memulainya dengan rakus mencuri udara sebanyak mungkin, berharap tak akan ada kesesakan yang lain. Ia sejujurnya sudah cukup sesak dengan udara rumah yang penuh dengan debu berhamburan. Entah apa yang telah dikerjakan Sang Ayah sampai rumahnya begitu menyesakkan, tak ada satupun ruang yang menyisakan udara segar. Jika saja paru-parunya bisa melayangkan protes, ia pasti sudah berteriak kesakitan, bagaimana bisa ia bertahan hidup tanpa sumber penghidupan?

Selang dua menit setelah berdeham, gadis dengan mata bulat itu akhirnya menemukan kata-kata yang telah dirangkainya selama berbulan-bulan. Entah darimana ia akan memulai tapi hanya ada hari ini, tidak dengan esok hari. Ia telah menantikan hari ini teramat lama, duduk berdua bersama sosok yang sering dipanggilnya sebagai “Kakak”. Ia melipat tangannya hingga mendekap kedua kakinya, ia harus bersikap dan berbicara dengan hati-hati. Sebab, ia sudah lelah dengan ketidakhati-hatian yang selalu saja berbuah keributan. “Kak”, satu kata terlontar dari mulut sang gadis meski dengan suara berat dan terdengar menyakitkan. Ia hampir-hampir tak percaya satu kata itu pada akhirnya terucapkan dari bibirnya. Sang kakak menoleh ke arahnya, hanya menatapnya kemudian kembali bermain kerikil dan melanjutkan kegiatannya yang entah menggambar apa di pasir. “Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Kalaupun memang Mas tidak disetujui, kami siap berjuang. Tapi tidak dengan mendiamkanku seperti ini. Sudah berapa malam berlalu, dan tidak ada satupun dari kalian yang mengatakan tidak. Tiada pula yang mengatakan setuju. Aku ini juga manusia biasa, ada kalanya aku jatuh cinta dengan pilihanku, tapi ada kalanya aku juga kecewa dengan perlakuan orang lain padaku. Mengapa tega sekali mengabaikanku?” Hening yang tersisa, gadis itu kembali menjatuhkan bulir-bulir air matanya menambah berat kalimat lain yang akan terucap. Sementara itu, sang kakak tetap diam dan melanjutkan menggambar di pasir, tidak ada jawaban apapun, bahkan suara nafasnya pun tidak terdengar, kalah oleh gemuruh pasir dan ombak yang bersahutan.

“Kalau terus seperti ini apa yang harus aku lakukan? Kami saling mencintai Kak, tidak ada yang lebih baik darinya untukku, dan sebaliknya, tidak ada yang lebih baik dariku untuknya. Kami begitu serasi dalam sudut pandang kami, lalu mengapa tidak di mata kalian? Ibu bahkan terus melontarkan kalimat aneh yang hanya menambah runyam pikiranku. Apa karena Masmu lebih baik daripada Masku? Padahal Masku itu sangat baik untukku dan mungkin juga Masmu sangat baik untukmu. Lalu mengapa bibi dan paman bersikap ketus saat aku hendak menuangkan teh hangat di gelas mereka? Padahal itu rumahku, rumah kita, bukankah memang seharusnya seorang tuan rumah menyiapkan yang terbaik untuk tamunya? Mengapa mereka mengatakan mereka bisa menuang teh mereka sendiri, padahal aku yang tahu bagaimana kadar pahit, getir, dan manis dari teh itu. Aku yang membuatnya bahkan aku yang memasak airnya. Mereka seharusnya tidak mengatakan seperti itu.” Hembusan nafas panjang kembali terdengar, ia mengisi tenaganya yang sudah habis hanya untuk dua kalimat yang tidak terlalu panjang, bahkan sekarang energinya hampir hilang karena beban berat ini.

“Kak…Kalau aku salah katakan sesuatu. Aku mencintai Masku, kau juga pasti paham karena kau juga mencintai Masmu. Tapi Kak, apalah arti cintaku jika satu keluarga enggan sudi menerima pria yang aku cintai? Apalah arti itu semua, jika pilihanku hanya akan menyakitinya, menyakitiku dan menyakiti kalian? Bukankah lebih baik jika hanya aku dan Masku yang tersakiti? Semakin sedikit orang yang tersakiti bukankah itu lebih baik? Tapi kak, aku sudah memikirkannya jauh-jauh hari, sebenarnya baik aku dan Masku bukan tipikal manusia yang mudah menyerah hanya dengan sikap-sikap kalian yang entah tujuannya apa. Hanya saja, aku ini tetaplah anak dari seorang Ibu dan Ayah, aku juga tetaplah adik dari seorang kakak dan aku juga seorang kerabat dari keluarga. Status itu tidak bisa kuhapus, dan memang tidak ingin aku hapus bagaimanapun beratnya. Maka dari itu, restu kalian amatlah berperan penting dalam perjalanan kami. Akan ada banyak halang rintang dalam ikatan suci ini. Tapi aku tak yakin sanggup jika harus melaluinya bersama halangan lain….” Tangisnya pecah kali ini, ia benar-benar tak sanggup melanjutkan kalimat terakhirnya. Dengan penuh kesesakkan ia melanjutkan kata demi kata yang begitu getir “apalagi halangan itu dari keluarga”. Ia semakin kesusahan bernafas karena tangisnya yang mulai tak terkendali, sedangkan gadis di sebelahnya mulai berhenti menggambar di pasir sejak kalimat terakhir diucapkan sang adik. Tidak ada jawaban apapun darinya. Ia hanya berhenti menggambar di pasir, itu saja. Sementara itu adiknya tengah sibuk menyeka air matanya yang terus mengalir, ia menahan isaknya di tengah udara malam yang menyesakkan, ia menyembunyikan suara sebisanya. Berharap gemuruh pantai mampu menutupi isakannya yang terdengar semakin kencang. Padahal sudah lampau jauh tangisnya, hingga ikan dan penghuni lautpun enggan bersuara, mereka turut merasakan kepedihan yang mendalam di bawah sana.

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIB, sudah bermenit-menit lalu sejak ia berhenti dari tangisnya, air matanya sudah kering, tak mampu ia jatuhkan lagi, suasananya begitu kacau. Pahitnya tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir sang kakak, ia hanya mematung, membiarkan udara malam merasukinya hingga ke tulang tanpa penolakan. Ia bahkan masih harus berpikir bagaimana ia akan kembali ke rumah penuh debu itu. Rasa-rasanya malam itu ia hanya ingin mengikuti godaan ombak yang sejak sore merayunya untuk menerjunkan diri. Tapi ia tahan karena ia masih harus melanjutkan perjuangannya bersama sang kekasih hati, merebut restu dan kepercayaan. Karena tanpa itu ia paham betul, ikatan yang suci mungkin akan menjadi noda bagi mereka-mereka yang tak memberikan berkatnya.

Hatiku tenang mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku

Untuk sahabatku terkasih, semoga Allah mudahkan jalanmu menjemput separuh agamamu aamiin 

- Wahida Yuyun Suciati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...