Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Surat Untuk Masa Depan, Dari Untuk Aku

            Hallo Wawah, tanggal 01 Januari nanti kamu akan memasuki usia 21 tahun. Angka yang tak pantas disandingkan dengan candaan atau semua hal yang serba sia-sia. Angka yang seharusnya mampu menempamu lagi dan lagi, terus dan terus, semakin dan semakin mendewasa. Ingatkah, bagaimana Almarhum Bapak mendidikmu? Bermodalkan kesabaran yang luas dan do’a yang tiada henti setiap harinya, kau tumbuh hingga saat ini. Tumbuh sebagai seorang putri yang membawa harapan, mimpi, dan cinta dari banyak orang. Wah, untuk kesekian kalinya, pada paragraph pertama tulisan ini izinkan diri untuk melantunkan ucapan terimakasih. Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, tahun 2020 kemarin adalah tahun yang begitu menguras air matamu, namun kau dengan sigap menyapunya meski berat mencoba menjadi ikhlas semaksimal yang kau bisa. Wah, terimakasih karena sudah tetap menjadi cahaya yang begitu terang, mengukir senyum di bibir banyak orang, masih sama seperti Wawah yang biasan...

Perihal Lepas dan Mengikhlaskan #1

“Fin, dalam hidup ini kita diharuskan buat menentukan pilihan kan? Tapi kenapa ya soal mengikhlaskan kadang aku gatau, gimana milih cara yang tepat buat melepasnya.” Kata Binar di sudut kamar kost berukuran 3,25 x 3,5 meter. Ia mengatakan hal tersebut sendirian, dan sekelebat memori berupa paras seseorang muncul. “Fin, aku nggak pernah mengira bahwa segala yang pernah ada ini ternyata memang hanya akan sia-sia. Enggak peduli seberapa dalam rasa yang pernah kita punya, perasaan ini emang ga seharusnya ada. Kalau tahu sedari awal, mungkin aku nggak akan berani mengenalmu, tidak pula mencoba mengamati bagaimana karaktermu, apalagi sampai tahu segala tentangmu.” “Hari itu, saat kamu melemparkan pertanyaan, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku mau menunggu. Tapi itu bukan hakku Fin. Aku sama sekali tidak tahu menahu, apakah 5 tahun lagi aku masih dengan perasaan yang sama, keadaan yang sama, dan kesehatan yang sama. Aku benar-benar mengkhawatirkan semuanya, aku terlalu ...

Nasihat Pernikahan dari Ibuk

Suatu hari di sudut rumah aku dengan sengaja mendesak ibuk untuk memberi jawaban atas segala yang telah aku lontarkan. Jawaban dari rasa penasaran, ya walaupun sebenarnya tidak pernah aku pendam. Aku kala itu memang sudah tak terlalu lugu, dan dirasa sudah cukup tahu di usia anak sebayaku. Tapi tetap saja aku ingin mendengar jawaban dari ibuk. Ibuk bilang "menikah itu bukan hal yang gampang, bagaimana mungkin ibadah terlama bisa dibilang gampang. Menikah adalah ibadah seumur hidup jadi tidaklah mudah dilakukan. Butuh persiapan yang benar, baik fisik, rohani, maupun mental. Makanya ibuk nggak pernah melarang kamu untuk jatuh cinta dengan siapapun, selagi dia tanggungjawab terhadap Allah dan segala kewajibannya. Karena memang yang mendasari ikatan bernama pernikahan adalah 'cinta'. Entah kapan cinta itu datang, ketika lamaran kah, ketika ta'aruf kah, ketika akad kah, jauh sebelumnya, atau bahkan juga jauh setelahnya. Tapi 'cinta' adalah elemen penting. K...