Hallo Wawah, tanggal 01 Januari nanti kamu akan memasuki usia 21 tahun. Angka yang tak pantas disandingkan dengan candaan atau semua hal yang serba sia-sia. Angka yang seharusnya mampu menempamu lagi dan lagi, terus dan terus, semakin dan semakin mendewasa. Ingatkah, bagaimana Almarhum Bapak mendidikmu? Bermodalkan kesabaran yang luas dan do’a yang tiada henti setiap harinya, kau tumbuh hingga saat ini. Tumbuh sebagai seorang putri yang membawa harapan, mimpi, dan cinta dari banyak orang. Wah, untuk kesekian kalinya, pada paragraph pertama tulisan ini izinkan diri untuk melantunkan ucapan terimakasih. Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, tahun 2020 kemarin adalah tahun yang begitu menguras air matamu, namun kau dengan sigap menyapunya meski berat mencoba menjadi ikhlas semaksimal yang kau bisa. Wah, terimakasih karena sudah tetap menjadi cahaya yang begitu terang, mengukir senyum di bibir banyak orang, masih sama seperti Wawah yang biasanya. Terimakasih sudah kuat, menjalani hari-hari berat tanpanya, tanpa sosok yang paling ingin kau buat bahagia. Meski rindumu kian hari kian menjadi, kau tetap berusaha tegar menghadapi kenyataan yang begitu menyayat hati. Kau tahu, Bapak pasti bangga melihat putri kecilnya semakin hari semakin rajin memperbaiki diri, agar do’a untuknya sampai kepada Allah. Untuk itu jangan bosan menjadi lebih baik, karena hanya itu tiketmu agar Bapak tetap bahagia di sana.
Wah, pesanku untukmu mungkin tak
banyak, tak pula mampu meringankan segala yang terjadi. Tapi, aku selalu siap
berjuang bersamamu, menemani bahagiamu, bahkan di masa tersulitmu. Tidak pernah
terbesit dalam diri ini menyesal telah menjadi kamu, meski sejujurnya selama 3
tahun terakhir ini tak mudah bagiku untuk hanya sekadar bernafas. Tapi wah,
semangatmu yang setiap hari selalu sama, tak peduli seburuk apa dunia, itu
membuatku malu. Membuatku selalu ingin menjadi kamu dalam versi terbaikku. 21
tahun sudah kita bersama, mulai dari kamu yang hanya bisa merengek kelaparan,
hingga saat ini kamu perlahan merintis bisnis demi tak menembah beban sosok
malaikat yang Allah kirim ke dunia untuk merawatmu, yang kamu sebut sebagai
ibu. Wah, begitu panjang jalan yang kita lalui, begitu berkelok, terkadang
jalan ini mulus, kadang curam, sungguh tak terduga. Tapi wah, kita bisa melaluinya
hingga saat ini, bukankah rasa syukurmu harusnya menambah setiap hari? Allah
kuatkan kamu, meski kamu sering menyebalkan, tak istiqomah, imanmu tak pernah
stabil, dan kamu kadang juga merepotkan. Allah beri kamu lingkungan yang sangat
kondusif, menerimamu apa adanya, mengasihimu dengan tulus, membersamai
langkahmu menuju ridho-Nya. Benar-benar kehidupan yang indah bukan?
Wah, surat ini aku tulis tak lain
tak bukan agar suatu saat nanti saat kau membacanya kau akan ingat, begitu
banyak hal yang harusnya membuatmu bersyukur, bukannya malah futur. Aku sendiri
adalah saksi perjalanan ini, runtutan cerita yang juga sebelumnya tidak pernah
aku duga apalagi aku tak banyak mengerti. Mengenalmu sebagai aku adalah bagian
hidup yang paling menyenangkan. Tetaplah jadi Wawah yang bercahaya, yang baik,
yang senantiasa menerangi sekitar dengan terangnya kebahagiaan. Sekalipun badai
menerjang, tetaplah jadi keteduhan, tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang
membutuhkan senyuman. Tetaplah jadi Wawah yang tenang, menyelesaikan masalah
dengan dingin dan lagi lagi penuh senyuman. Meski hatimu kadang berontak, tetap
kendalikan, menangis seperlunya, mengeluh secukupnya, jadilah baik sesering
yang kamu bisa. Kita ikhtiarkan untuk tumbuh
bersama, mengarungi tahun demi tahun berikutnya. Tahun yang mungkin akan
semakin diwarnai hari berat, namun juga kebahagiaan dan hikmah yang berkali
lipat. Husnudzon pada ketetapan Allah, Allah Sang Maha Baik yang selalu
menaungimu dengan banyak nikmat. Wawah semangat ya, kamu tak sendiri, kita
bersama-sama. Selamat menambah usia, selamat ulang tahun Wawah.
Dari diri untuk diriku sendiri yang telah kuat.

Komentar
Posting Komentar