
“Fin, dalam hidup ini
kita diharuskan buat menentukan pilihan kan? Tapi kenapa ya soal mengikhlaskan
kadang aku gatau, gimana milih cara yang tepat buat melepasnya.” Kata Binar di
sudut kamar kost berukuran 3,25 x 3,5 meter. Ia mengatakan hal tersebut sendirian,
dan sekelebat memori berupa paras seseorang muncul.
“Fin, aku nggak pernah
mengira bahwa segala yang pernah ada ini ternyata memang hanya akan sia-sia. Enggak
peduli seberapa dalam rasa yang pernah kita punya, perasaan ini emang ga
seharusnya ada. Kalau tahu sedari awal, mungkin aku nggak akan berani
mengenalmu, tidak pula mencoba mengamati bagaimana karaktermu, apalagi sampai
tahu segala tentangmu.”
“Hari itu, saat kamu melemparkan
pertanyaan, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku mau menunggu. Tapi itu
bukan hakku Fin. Aku sama sekali tidak tahu menahu, apakah 5 tahun lagi aku
masih dengan perasaan yang sama, keadaan yang sama, dan kesehatan yang sama. Aku
benar-benar mengkhawatirkan semuanya, aku terlalu takut untuk tidak sempurna
buatmu. Makanya aku bilang “aku nggak bisa”. Allah lebih tahu kan Fin, ternyata
setelah aku nggak nunggu, memang betul bukan aku kan orangnya?”
“Hari dimana kita
sama-sama mencoba saling melepaskan, mengikhlaskan. Aku ingin sekali bilang
kalau aku nggak bisa. Tapi, hari itu juga aku terus mencoba, buat nggak
lagi-lagi membahas kenangan yang pernah ada. Aku bilang ke diriku sendiri,
kalau ini diteruskan aku takut nggak melihat kamu di surga. Sungguh alasan yang
aneh bukan? Hari itu juga sebenernya aku sudah tahu kenapa semua kenangan ini
harus aku ikhlaskan. Yaaaa aku ingin aku dan kamu berjalan untuk menggapai
ridho-Nya, masing-masing. Makanya, sekalipun aku kesakitan, aku nggak pernah
menyesal pernah berkata ‘maaf aku nggak bisa’”
“Alfin, ini aku Binar.
Gadis yang dulunya sehari-hari melangitkan namamu, ingin mengucapkan
terimakasih. Saat aku menuliskan huruf pertama di tulisan ini, aku telah
mengikhlaskanmu. Tidak ada lagi harapan dan rasa yang mendalam, tidak ada lagi
Alfin Alfariz di sepanjang do’aku. Semoga selau istiqomah di jalan-Nya, semoga bahagia.
Dari aku yang mengabadikan namamu di setiap imajinasiku ,,,,Wawah.
Komentar
Posting Komentar