Langsung ke konten utama

Perihal Lepas dan Mengikhlaskan #1



Anime Male | Elegant | Flower Vest | Anime art, Anime, Boy art

“Fin, dalam hidup ini kita diharuskan buat menentukan pilihan kan? Tapi kenapa ya soal mengikhlaskan kadang aku gatau, gimana milih cara yang tepat buat melepasnya.” Kata Binar di sudut kamar kost berukuran 3,25 x 3,5 meter. Ia mengatakan hal tersebut sendirian, dan sekelebat memori berupa paras seseorang muncul.

“Fin, aku nggak pernah mengira bahwa segala yang pernah ada ini ternyata memang hanya akan sia-sia. Enggak peduli seberapa dalam rasa yang pernah kita punya, perasaan ini emang ga seharusnya ada. Kalau tahu sedari awal, mungkin aku nggak akan berani mengenalmu, tidak pula mencoba mengamati bagaimana karaktermu, apalagi sampai tahu segala tentangmu.”

“Hari itu, saat kamu melemparkan pertanyaan, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku mau menunggu. Tapi itu bukan hakku Fin. Aku sama sekali tidak tahu menahu, apakah 5 tahun lagi aku masih dengan perasaan yang sama, keadaan yang sama, dan kesehatan yang sama. Aku benar-benar mengkhawatirkan semuanya, aku terlalu takut untuk tidak sempurna buatmu. Makanya aku bilang “aku nggak bisa”. Allah lebih tahu kan Fin, ternyata setelah aku nggak nunggu, memang betul bukan aku kan orangnya?”

“Hari dimana kita sama-sama mencoba saling melepaskan, mengikhlaskan. Aku ingin sekali bilang kalau aku nggak bisa. Tapi, hari itu juga aku terus mencoba, buat nggak lagi-lagi membahas kenangan yang pernah ada. Aku bilang ke diriku sendiri, kalau ini diteruskan aku takut nggak melihat kamu di surga. Sungguh alasan yang aneh bukan? Hari itu juga sebenernya aku sudah tahu kenapa semua kenangan ini harus aku ikhlaskan. Yaaaa aku ingin aku dan kamu berjalan untuk menggapai ridho-Nya, masing-masing. Makanya, sekalipun aku kesakitan, aku nggak pernah menyesal pernah berkata ‘maaf aku nggak bisa’”

“Alfin, ini aku Binar. Gadis yang dulunya sehari-hari melangitkan namamu, ingin mengucapkan terimakasih. Saat aku menuliskan huruf pertama di tulisan ini, aku telah mengikhlaskanmu. Tidak ada lagi harapan dan rasa yang mendalam, tidak ada lagi Alfin Alfariz di sepanjang do’aku. Semoga selau istiqomah di jalan-Nya, semoga bahagia. Dari aku yang mengabadikan namamu di setiap imajinasiku ,,,,Wawah.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...