Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Menanak Nasi di Pelosok Papua

     Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya...

Prolog 'Komparasi'

Musim telah berganti, namun parasmu tiada kabur Ia jutru membaur, bersama angan-angan yang terhambur Tawamu terdengar sampai ke negeri sebrang Pesonamulah yang menyampaikan pesan Perangaimu menembus jarak Memecah belah logikaku Sementara kini hanya ada aku Serta kenangan yang tak terkikis oleh waktu           Kala itu aku tiada sengaja menemukanmu diantara kaset-kaset kusut yang hanya menunggu pemiliknya menaruhnya di tempat yang tak akan aku jamah lagi. Kilaumu menarik perhatianku, pikirku menyelinap “siapa pula yang membiarkan kilauan emas diantara kaset kusut seperti ini?” Aku tiada henti melihatmu, mengamatimu, memperhatikanmu, klilaumu sungguh merenggut kesadaranku, hampir seutuhnya, benar-benar saat itu aku hanya melihat ke arahmu saja. Hingga beberapa menit kemudian kesadaranku menghampiriku pelan. Merenggut imajinasiku tentangmu. Membiarkannya terbang, menyisakan bayang-bayang. Aku tersadar, hingga sepenuhnya memijak bumi tempat awalku...

Motor Bapak💙

     Akhir-akhir ini aku cukup sering mengingat banyak hal tentang almarhum Bapak. Yah, kalau sedang ingat dan mulai rindu, bisanya cuma nahan sesak, nangis sendirian dan mendoakan. Tidak ada banyak hal yang bisa aku lakukan, dan aku sudah mulai membiasakan diri dengan itu. Aku punya banyak cerita menarik tentang Bapak. Sejak kecil kami memang dekat, sama halnya kedekatanku dengan ibu. Hanya saja punya porsi masing-masing. Bapak lebih banyak berperan di sekolah, prestasi, karir dan hal lainnya. Sedangkan ibu lebih banyak soal cinta monyet, pertemanan, dan konser Shawn Mendes sebelum aku terjun bebas di dunia perkpop an :)).       Seperti yang sudah aku jelaskan, bapak lebih banyak mengambil peran di urusan pendidikan. Salah satunya pendidikan mengantar jemput 😆. Sejak SD aku sudah sering diantar bapak, padahal jarak rumah ga ada 1 KM, jalan kaki 5 menit pun sampai. Bukan apa-apa, tapi bapak juga kerja di sana jadi ya kalau bisa nebeng mengapa harus ja...