Langsung ke konten utama

Prolog 'Komparasi'

Musim telah berganti, namun parasmu tiada kabur

Ia jutru membaur, bersama angan-angan yang terhambur

Tawamu terdengar sampai ke negeri sebrang

Pesonamulah yang menyampaikan pesan

Perangaimu menembus jarak

Memecah belah logikaku

Sementara kini hanya ada aku

Serta kenangan yang tak terkikis oleh waktu

        Kala itu aku tiada sengaja menemukanmu diantara kaset-kaset kusut yang hanya menunggu pemiliknya menaruhnya di tempat yang tak akan aku jamah lagi. Kilaumu menarik perhatianku, pikirku menyelinap “siapa pula yang membiarkan kilauan emas diantara kaset kusut seperti ini?” Aku tiada henti melihatmu, mengamatimu, memperhatikanmu, klilaumu sungguh merenggut kesadaranku, hampir seutuhnya, benar-benar saat itu aku hanya melihat ke arahmu saja. Hingga beberapa menit kemudian kesadaranku menghampiriku pelan. Merenggut imajinasiku tentangmu. Membiarkannya terbang, menyisakan bayang-bayang. Aku tersadar, hingga sepenuhnya memijak bumi tempat awalku. Aku menghela nafas sebentar. Saat hentakkan nafasku terhambur, bersama itu ingatanku tentang kilaumu utuh. Ternyata cukup panjang, perjalananku memandangimu teramat panjang dan semuanya tertata rapih di pikiranku. Aku ingin kau mendengarnya, hari dimana kau renggut kesadaranku. Tapi sepertinya belum hari ini, karena meski aku telah kembali ke bumi, kilaumu tetap terang di sini. Akan aku sambung lain kali, saat semua sudah benar-benar selesai, meski cerita ini tak akan pernah bisa kumulai. 

Komentar

  1. Ini ada kelanjutannya kan? Penasaran siapa yang dimaksud.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...