Langsung ke konten utama

Sepenggal kisah hijrah dan istiqomah


قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allaah. Sesungguhnya Allaah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Entahlah petir apa yang menyambar seorang gadis bernama Wawah ini. Tak banyak yang tahu mengenai kisah panjangnya untuk sekedar berusaha menjadi pribadi lebih baik. Yaaa, aku dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang biasa saja, tidak terlalu agamis maupun sebaliknya. Aku sekeluarga hanya melakukan apa yang Allaah perintahkan dan yang paling umum dikerjakan seorang muslim. Seperti halnya sholat, puasa, zakat, tilawah dan amalan lainnya. Tidak ada yang lebih dari hal itu dan mirisnya aku hanya bertolak ukur pada kebiasaan di lingkungan sekitarku. Tanpa pernah berusaha mencari tahu, belajar lebih dalam, atau bahkan hanya sekedar memunculkan pertanyaan pada hati. Aku dilahirkan di sebuah lingkungan desa yang jauh dari kota di Kabupaten Magelang. Lingkunganku masih terbilang cukup serat akan budaya dan kebiasaan, bahkan bisa dibilang lingkungan yang masih “mencampur adukan budaya dan agama”. 

Singkat cerita, aku masuk sekolah dasar di umur 5 tahun, bukan karena pintar atau apapun, hanya saja di rumah tidak ada TK yang terdekat. Sekolahku bisa dibilang tempat utama untukku mengais ilmu agama yang masih sangat minim. Sebenarnya di rumah pun ada guru TPA, namun entah kenapa aku hanya diajari membaca iqra’ dan al-Qur’an. Aku tak merasa diajari pengetahuan agama lainnya, semua itu aku dapatkan ketika bersekolah di sebuah sekolah negeri. Jangankan untuk memakai hijab syar’i, hukum memakai hijab saja aku belum mengetahuinya kala itu. Hingga pada masanya aku sudah beranjak remaja, memasuki bangku SMP akupun mulai sedikit paham tentang agama. Meskipun masih jauh sekali untuk benar-benar memahami yang baik dan buruk, dan memahami yang perintah dan larangan. Kala itu aku juga sudah mengenal pacaran. Entah dari mana sumber serta asal muasalnya. Aku hanya menjalani seperti yang kebanyakan teman-temanku lakukan. Hari-hari ku hanya diisi main, belajar, dan pacaran. Namun, memang sedari dulu aku selalu masuk peringkat 10 besar di sekolah dan kadang hal itulah yang membuatku percaya diri untuk mendekati lawan jenis.

َيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).


Rasa-rasanya aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan kala itu, nilai yang bagus, pacar yang tampan dan bahkan kakak kelas, juga kebutuhan material dari orang tua. Hingga tiba saatnya masa SMA pun tiba. Masa putih abu-abu memang terkenal dengan kenangannya. Saat itu aku putus dengan pacarku dan memilih untuk fokus, tapi lagi-lagi setanlah yang menjadi pemenangnya. Dalam keadaan sudah terbalut hijab aku masih sering melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang muslimah. Tak ada yang lebih memalukan daripada kehilangan rasa malu yang sebenarnya itu wajib dimiliki oleh muslimah. Aku mulai menyukai seorang kakak tingkat yang karenanya aku bisa berubah menjadi perempuan yang agresif dan selalu berusaha mencari perhatiannya. Memang ini sepenuhnya salahku dan aku sudah berjanji tak akan mengulanginya lagi.

Di SMA aku mulai mengenakan hijab, dan memilih teman-teman yang sejalan denganku. Alhamdulillah, semenjak SMA pengetahuanku tentang agama mulai agak terisi. Terlebih android sudah marak saat itu. SMA ku memang SMA negeri, namun lingkungan kami terkenal sangat Islami. Lebih-lebih dengan adanya banyak orang yang mulai berhijrah di sana, bahkan salah seorang kawanku bisa menghafal 20 juz dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun. Hal itu semakin memotivasiku untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi.

Allaah Maha Baik, aku diterima di Universitas di mana hanya ada 1 orang per 5 tahun yang berasal dari SMA ku bisa menembus ke sana. FK-KMK UGM, di sinilah aku sekarang. Dan karena prestasiku itulah guru-guru banyak yang mengontakku untuk sekedar berbagi dan memotivasi adik kelas yang masih berjuang. Tapi karena hal itu juga aku bertemu dengan seseorang yang kemudian menjadi motivatorku. Hingga datang seseorang lagi dari masa lalu yang menjadi motivatorku juga. SALAH! Itu yang aku rasakan sekarang. Mengingat aku banyak sekali melakukan dosa. Pemahamanku sangat minim kala itu, tapi itu bukanlah alasan yang kuat untuk membuatku terhindar dari neraka. Mengatas namakan agama padahal berlandas cinta karena nafsu, kami memang tidak berpacaran, pacaran kami pacaran baik, saling mengingatkan dalam kebaikan, membaca al-kahfi, mengingatkan puasa sunnah dan sebagainya. Tapi bukankah meminum khamr dengan membaca basmallah terlebih dahulu tak lantas membuatnya halal? Sama halnya dengan pacaran baik ini. Tak akan mengubahnya menjadi halal.

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

Mulai dari situ aku merasa tertampar, pakaianku syar’I, aku rajin mengikuti kajian, aku bahkan masuk organisasi islam, aku juga sering memberi nasihat tentang agama bila ada teman yang bertanya padaku. Kemudian aku sadar bahwa apa yang aku lakukan selama ini adalah sebuah kesalahan. Hingga dorongan dan semangat dari teman-temanku bermunculan. Dengan hati yang kokoh aku memutuskan untuk menjauhi mereka semua yang dapat membuat keimananku goyah. Cara jitunya adalah memblokir semua akun medsos mereka. Awal semester 2 aku benar-benar sudah mantap dengan jalanku. Tak ada lagi motivator cinta, apalagi pacaran-pacaran club. Aku hanya ingin bersama orang-orang yang bisa mendekatkanku dengan-Nya. Dan itu yang aku rasakan sekarang. Berada di lingkungan yang baik dan mendukungku untuk beristiqomah, untuk selalu menjemput hidayah, untuk berjalan bersama ke Jannah-Nya.

Kini aku mulai melengkapi setiap kepingan puzzle keimanan dalam diriku yang belum sempat kuperoleh atau bahkan sudah mulai menghilang. Memang masih sangat jauh dari kata sempurna, tapi bukankah Allaah lebih suka pada orang yang mau berikhtiar di jalan-Nya? Sungguh, aku merasa sangat beruntung berada di lingkungan FK-KMK UGM. Banyak orang yang sangat mendukung dan membagikan ilmunya tanpa pamrih. Banyak orang yang mau belajar bersama untuk senantiasa memperbaiki diri. Bahkan aku pernah tersentuh dengan sebuah kalimat dari salah seorang sahabatku yang baru aku kenal 2 minggu “Wah, nanti kalau kamu tak melihatku di surga, tolong cari aku. Bilang ke Allaah kalau aku ini adalah salah seorang sahabatmu”. Air mataku mengalir deras saat itu, aku tak mampu menahan derasnya perasaan campur aduk itu. Bagaimana tidak? Seorang yang baru ku kenal mengucapkan kalimat yang sangat romantis sekali.

Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

Mari kawan, apalagi yang kita tunggu kalau bukan kematian? Apalagi yang harus kita tunda untuk tak bersegera menyiapkannya? Aku, manusia yang paling buruk, tapi masih Allaah sayangi dengan diberi berjuta jalan untuk memulai hijrah dan beristiqomah. Apakah kau tega melihat kedua orang tuamu yang sudah berkorban banyak di dunia dan masih harus mencicip perihnya neraka karenamu? Haruskah mereka menanggung pilunya dunia, pahitnya akhirat, atau bahkan keduanya? Sudah saatnya kita dewasa untuk memilih. Memilih kebaikan dan meninggalkan keburukan. Sudah saatnya kita menyambut hangat kematian sekalipun tak disangka kedatangannya. Mari kawan berjuang bersamaku, mereka, dan kita semua. Semangat kawan, percayalah jika kau mencintai Allaah dan Rasul-Nya melebihi apapun, tak akan mungkin kau dapati cinta yang bertepuk sebelah tangan.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...