Kalimat singkat yang pernah disampaikan oleh mas Narendra Rangga Reswara pada diskusi online di grup Keluarga Inspirasia BEM FK-KMK UGM beberapa waktu lalu. Bagi para pengikut diskusi online yang sedang terkantuk-kantuk pasti akan mendadak melek dan mencoba memahami kalimat tersebut, luar biasa makjleb sekali kalimat ini. Pengemban amanah yang mana yang tak merasa hebat kala kalimat itu dilontarkan? Mungkin kita semua sempat melambung tinggi, jauh hingga menembus langit ke tujuh, kemudian mengitari angkasa raya, yang dikelilingi oleh jutaan bintang bertebar di hektaran langit Allaah yang maha luas (alay bet yahhh). Kita merasa hebat karena terlalu sering mendapatkan amanah yang tak jarang membuat orang-orang di sekitar kita berpikir bahwa “We’re the superman, busily productive”.“Amanah tak pernah memanggil orang hebat, tapi amanah menghebatkan orang yang terpanggil”.
Mungkin kalimat mas Naren
tersebut hanya berlaku bagi sebagian manusia. Merekalah aktivis-aktivis Allaah
yang beruntung. Mereka yang berhasil meluruskan niat, mengemban amanah,
mengeksekusinya dengan baik tanpa berkeluh kesah. Merekalah yang paham betul
bahwa amanah bukan hanya soal LPJ dihadapan birokrat, melainkan
pertanggungjawaban kita kepada Yang Maha Kuasa, memiliki kesadaran Ilahiyah.
Maka sudah sepantasnya merekalah yang pantas kita sebut dengan julukan “Si
Hebat”. Sedang kita, pernahkan kita berpikir untuk menjadi hebat juga? Tentunya
dengan tetap meluruskan niat karena Allaah SWT. Tentu pernah bukan?
Kita bukan hendak
memaparkan tips dan trik menjadi “ Si Hebat” seperti yang mas Naren katakan.
Kita hanya berusaha menjadi versi terbaik diri dengan mengingat kembali
kemampuan kita yang mungkin sering kita abaikan. Bagaimana mungkin kita bisa
menjadi hebat manakala tubuh kita terasa sangat lelah karena tiga agenda
organisasi beriringan jalannya. Bagaimana mungkin kita akan menjadi hebat
ketika waktu terus bergulir tapi kita tak mampu mengaturnya. Bagaimana mungkin
kita akan menjadi hebat jika masih selalu memberatkan sebelah dan
mengesampingkan salah satu atau bahkan amanah lainnya?
Kuncinya hanya satu
bukan? Sortir amanah tersebut dan fokuslah. Yang selalu menjadi masalah bagi
setiap dari kita adalah keengganan untuk berkata “tidak”. Padahal, kalau sampai
kita mengambil seluruh amanah yang datang, akan banyak resiko yang
sewaktu-waktu dapat menyapa. Mungkin saja kita bisa sakit, mungkin saja kita
menjadi dzolim terhadap akademik atau
bahkan kepada amanah lainnya. Bukan maksud untuk tak mengambil setiap
kesempatan yang ada. Tapi lebih kepada menyortir amanah apa yang sekiranya kita
mampu, kita bisa, kita percaya, dan akan baik-baik saja untuk ke depannya.
Jangan sampai karena terlalu berambisi untuk menjadi hebat kita malah menjadi dzolim pada amanah lain di luar sana.
Sebab kita perlu
mengetahui seberapa optimal kita dapat memberikan kontribusi. Karena jika kita
hanya memikirkan apa yang dapat kita terima seperti halnya julukan “Si Hebat”
misalnya, kita hanya punya tolak ukur yang ringan, lemah dalam meniatkan hingga
hanya menimbulkan mudharat dan kelalaian ketika amanah sampai kepada kita.
Pikirkan baik-baik apa yang perlu menjadi prioritas dan fokuslah! Kapasitas setiap
kita adalah berbeda. Maka cobalah pahami diri sendiri dengan segala
keterbatasannya!
Kadang kita perlu bijak
kepada diri sendiri. Kita perlu mengingat bahwa dalam sehari hanya ada 24 jam.
Kita perlu sadar bahwa tangan kita hanya dua, kaki kita pun dua, mata kita
hanya dua, telinga kita dua, dan mulut kita hanyalah satu, serta hidung kita
yang hanya satu meskipun berlubang dua. Sudah sepantasnya kita menjadi dewasa
untuk mengelola setiap kesempatan yang datang. Tapi jangan sampai hal tersebut
membuat kita lalai kepada amanah lainnya. Lagi pula Allah menciptakan manusia
dengan kemasan yang sangat komplit lengkap beserta kelemahan dan kelebihannya.
Jadi mulailah bijak pada diri sendiri untuk memilah setiap amanah. Agar keoptimalan
dapat dicapai dan biarlah Allaah yang menghebatkan kita dengan amanah tersebut.
Selamat berproses dan berjuang. Semoga Allaah hebatkan kita-kita yang bersedia
menemui panggilan amanah dan tak lagi mengecewakannya. Semoga apa-apa yang kita
niatkan selalu dalam ridho-Nya.
“Tentu saja merasa yang paling-paling atau sombong bertentangan dengan realitas penciptaan manusia. Seharusnya, hakikat sebagai pemenang itu menjadi satu tanda syukur manusia kepada Allaah SWT. Meski manusia adalah pemenang, namun hakikat sebagai yang lemah dan terbatas adalah keniscayaan pada diri manusia” (Alfath Bagus Panuntun Elnur Indonesia)
Referensi:
Indonesia,
A.B.P.E. 2017. Kolaborasi Kebaikan. Elex
Media Komputindo Kompas-Gramedia. Jakarta.
Agung,
I.M., Husni D. 2016. Pengukuran Konsep Amanah dalam Pendekatan Kualitatif dan
Kuantitatif. 43 (3) : 194-206.
Komentar
Posting Komentar