Langsung ke konten utama

Jatuh atau Cinta?

 Image result for dalil tentang cinta

"Karena kalau sudah kadung cinta, apapun akan kita lakukan untuk memperjuangkannya"


Perasaan tak karuan itu sudah singgah di hatiku sejak beberapa bulan lalu. Tak pantas rasanya apabila aku terlalu dalam menaruh harap pada ia yang tak seharusnya menetap di hati yang tak lain tak bukan hanya titipan dari-Nya. Apalah daya, jika cinta itu semakin menemukan muaranya, mengalir ke tempat dimana ia memang seharusnya bermuara kemudian menetap di sebuah hati yang ingin sekali dia miliki. Sungguh, apabila kita tak benar-benar pandai menyimpannya dan Allah tak menutupinya maka entahlah apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Aku masih ingat betul kala itu ketika mataku tak selebar sekarang untuk melihat hal yang baik serta membuang yang buruk, telingaku yang masih disibukkan dengan cerita-cerita darinya yang kini untuk sekadar bereuni saja aku akan benar-benar memikirkan baik buruknya, manfaat dan mudharatnya. Aku masih ingat ketika dengan senang hati tangan ini bersinggungan dengan yang tak seharusnya, hingga suatu masa ketika tak sengaja bersinggungan mendadak risih dibuatnya. Ketika sengaja meniatkan untuk sekadar jalan bersama, hingga sekarang hanya berjarak 1 meter saja aku sudah sangat tak nyaman. Lantas apakah aku sudah tak mau jatuh cinta karena “batas suci” yang sudah aku bangun jauh-jauh hari?

Kalau boleh aku meminta, maka tak ingin aku biarkan perasaan menggebu yang ketika lewat selalu saja menyita waktuku untuk tersenyum, mengingat hal yang pernah ia perbuat. Aku tidak ingin menjadi hamba Allah yang justru malah lebih sibuk memikirkan cinta kepada makhluk dibandingkan cinta pada Sang Pencipta. Aku takut hal itu justru akan membuatku semakin tak karuan dan merusak pondasi keimanan yang baru-baru ini aku bangun dengan susah payah. Aku tak ingin merobohkannya lagi.

Memang benar ada beberapa opsi untuk menaruh kagum pada si A si B atau si C, menjadi secret admirer misalnya. Tapi apakah tidak malu, ketika kita malah terlalu banyak menyebut nama lengkapnya dibandingkan dzikir kita kepada-Nya? Apakah tak malu ketika kita sibuk mengantarkan do’a untuknya di sepertiga malam sementara orangtua kita yang selama hidup jauh lebih berperan tak sempat kita sebut dalam do’a-do’a kita?

Aku bingung, apakah aku benar sedang mencinta atau hanya sekedar jatuh. Katanya yang namanya cinta, apabila cinta kita padanya membuat kita lebih mendekat kepada-Nya, apabila kagum kita padanya menambah kekaguman kita kepada Baginda Rasul. Lantas apakah benar kita sedang mencintai apabila yang kita perbuat adalah hal sebaliknya?

Mungkin kita hanya sedang jatuh. Menjatuhkan hati padanya hingga lupa bahwa hati ini sepenuhnya hanya milik-Nya, kita sedang bernego pada Tuhan untuk berani menyebut namanya yang belum atau mungkin tidak akan pernah menjadi siapa-siapa bagi kita, kita sedang mencoba terlihat baik-baik saja agar hati kita terbiasa dengan keadaan yang serba rahasia.

Entahlah, aku tak yakin apakah aku sedang jatuh atau sedang cinta. Yang aku tahu aku hanya punya Dia yang selalu pasti membalas perasaanku, yang selalu mencintaiku bahkan sekalipun aku ini pendosa. Maka aku juga akan memperjuangkan yang telah pasti pula agar aku tak kecewa. Tapi tentangnya, aku pikir saat ini aku sedang terjatuh, pada hati yang tak seharusnya ada. Maka aku tak akan lagi memperjuangkannya baik di dunia nyata maupun di dunia do’a, karena aku tersadar, aku hanya sedang terjatuh dan mungkin belum sempat mencinta.

Suatu saat nanti pasti akan ada masanya, ketika kita benar-benar tak hanya sekadar jatuh, tapi kita sedang mencinta. Ketika Allah sudah berkehendak dan waktu yang baik itu sudah ada di depan mata. Ketika lantunan kalimat itu diperdengarkan meski getar tangannya menjabat erat tangan Ayah yang tak kalah gemetaran. Tapi di titik itulah memang seharusnya yang jatuh baru akan berubah menjadi cinta. Saat itu juga kita harus selalu ingat bahwa, cinta kita hanya sepenuhnya milik-Nya, dan apabila kita mencintainya maka pastikanlah itu hanya karena-Nya.


"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Q.S. Adz-Dzaariyat: 49)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...