
"Karena kalau sudah kadung cinta, apapun akan kita lakukan untuk memperjuangkannya"
Perasaan
tak karuan itu sudah singgah di hatiku sejak beberapa bulan lalu. Tak pantas
rasanya apabila aku terlalu dalam menaruh harap pada ia yang tak seharusnya
menetap di hati yang tak lain tak bukan hanya titipan dari-Nya. Apalah daya, jika cinta itu
semakin menemukan muaranya, mengalir ke tempat dimana ia memang seharusnya bermuara
kemudian menetap di sebuah hati yang ingin sekali dia miliki. Sungguh, apabila
kita tak benar-benar pandai menyimpannya dan Allah tak menutupinya maka
entahlah apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Aku masih
ingat betul kala itu ketika mataku tak selebar sekarang untuk melihat hal yang
baik serta membuang yang buruk, telingaku yang masih disibukkan dengan cerita-cerita
darinya yang kini untuk sekadar bereuni saja aku akan benar-benar memikirkan baik
buruknya, manfaat dan mudharatnya. Aku masih ingat ketika dengan senang hati
tangan ini bersinggungan dengan yang tak seharusnya, hingga suatu masa ketika
tak sengaja bersinggungan mendadak risih dibuatnya. Ketika sengaja meniatkan
untuk sekadar jalan bersama, hingga sekarang hanya berjarak 1 meter
saja aku sudah sangat tak nyaman. Lantas apakah aku sudah tak mau jatuh cinta
karena “batas suci” yang sudah aku bangun jauh-jauh hari?
Kalau boleh
aku meminta, maka tak ingin aku biarkan perasaan menggebu yang ketika lewat
selalu saja menyita waktuku untuk tersenyum, mengingat hal yang pernah ia
perbuat. Aku tidak ingin menjadi hamba Allah yang justru malah lebih sibuk
memikirkan cinta kepada makhluk dibandingkan cinta pada Sang Pencipta. Aku
takut hal itu justru akan membuatku semakin tak karuan dan merusak pondasi
keimanan yang baru-baru ini aku bangun dengan susah payah. Aku tak ingin merobohkannya lagi.
Memang benar
ada beberapa opsi untuk menaruh kagum pada si A si B atau si C, menjadi secret admirer misalnya. Tapi apakah
tidak malu, ketika kita malah terlalu banyak menyebut nama lengkapnya
dibandingkan dzikir kita kepada-Nya? Apakah tak malu ketika kita sibuk
mengantarkan do’a untuknya di sepertiga malam sementara orangtua kita yang
selama hidup jauh lebih berperan tak sempat kita sebut dalam do’a-do’a kita?
Aku bingung,
apakah aku benar sedang mencinta atau hanya sekedar jatuh. Katanya yang namanya
cinta, apabila cinta kita padanya membuat kita lebih mendekat kepada-Nya, apabila
kagum kita padanya menambah kekaguman kita kepada Baginda Rasul. Lantas apakah
benar kita sedang mencintai apabila yang kita perbuat adalah hal sebaliknya?
Mungkin kita
hanya sedang jatuh. Menjatuhkan hati padanya hingga lupa bahwa hati ini
sepenuhnya hanya milik-Nya, kita sedang bernego pada Tuhan untuk
berani menyebut namanya yang belum atau mungkin tidak akan pernah menjadi
siapa-siapa bagi kita, kita sedang mencoba terlihat baik-baik saja agar hati
kita terbiasa dengan keadaan yang serba rahasia.
Entahlah,
aku tak yakin apakah aku sedang jatuh atau sedang cinta. Yang aku tahu aku
hanya punya Dia yang selalu pasti membalas perasaanku, yang selalu mencintaiku
bahkan sekalipun aku ini pendosa. Maka aku juga akan memperjuangkan yang telah
pasti pula agar aku tak kecewa. Tapi tentangnya, aku pikir saat ini aku sedang
terjatuh, pada hati yang tak seharusnya ada. Maka aku tak akan lagi
memperjuangkannya baik di dunia nyata maupun di dunia do’a, karena aku
tersadar, aku hanya sedang terjatuh dan mungkin belum sempat mencinta.
Suatu saat nanti pasti akan ada masanya, ketika kita benar-benar tak hanya sekadar jatuh, tapi kita sedang mencinta. Ketika Allah sudah berkehendak dan waktu yang baik itu sudah ada di depan mata. Ketika lantunan kalimat itu diperdengarkan meski getar tangannya menjabat erat tangan Ayah yang tak kalah gemetaran. Tapi di titik itulah memang seharusnya yang jatuh baru akan berubah menjadi cinta. Saat itu juga kita harus selalu ingat bahwa, cinta
kita hanya sepenuhnya milik-Nya, dan apabila kita mencintainya maka pastikanlah
itu hanya karena-Nya.
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Q.S. Adz-Dzaariyat: 49)
Komentar
Posting Komentar