Barangkali ada kalanya kecewa singgah hingga mencabik hati yang menjadi sebab timbulnya luka. Amarah datang tanpa jeda meluapkan beribu prasangka yang goyahkan iman kita. Kesedihan melanda membuat banjir air mata meninggalkan bekas di kantongnya. Jenuh mampir seketika membuat semakin berat beban yang harus dibayar oleh karenanya. Kekesalan, kedongkolan, kekecewaan, kesedihan, keresahan, kejenuhan segala macam rasa pernah kita lalui. Kita pernah sebahagia itu dan pernah pula bersedih hati. Goresan-goresan rasa tersebut membekas tak jarang membuat lelah ketika ingat. Jutaan cara sudah kita coba untuk meyakinkan dan meneguhkan diri "Oke, aku nggak papa". Tapi bukan berarti kita lupa sakitnya, bekasnya masih ada dan sembuhnya akan cukup lama.
Namun aku tetap berterimakasih diri, kau sudah berjuang sejauh ini menempa hati yang lemah oleh laku dan kata, sudah berusaha untuk mencoba dibanding melakukan kebodohan yang sia-sia. Kau tahu? Lukamu yang dalam itu telah medewasakanmu yang masih labil terlahap emosi. Kumpulan rasa tak indah meski terkadang mengeruhkan pikir membuyarkan mimpi, ialah yang membuatmu terlatih untuk tidak bersikap manja pada keadaan. Tak ada lagi yang bisa kamu andalkan kecuali kekuatan dan keteguhan iman.
Percayalah semua akan baik-baik saja pada waktunya. Terima, maafkan, ikhlaskan, dan perbaikan. Jadikanlah rasamu sebagai proses untuk mendewasa, bertumbuh dan berkembang dengan segala macam rintangannya. Jadikanlah setiap ketidaksempurnaan hidupmu sebagai salah satu langkah bahwa kau layak lebih dari apa yang bisa kau lakukan. Kecewamu adalah cara Allah mengabarkan, bahwa ada yang lebih pantas untuk bisa kau perjuangkan, yaitu ridho-Nya. Amarahmu adalah jalan juang untuk kesabaran di masa mendatang. Sedihmu adalah ekspresi esok yang akan membahagiakan. Jenuhmu adalah fase penantian hasil dari jawaban. Resahmu adalah prasangka bahwa "semua akan baik-baik saja karena Allah".
Kau hanya perlu menerima bahwa takdirmu tak akan pernah melewatkanmu. Memaafkan diri yang serba kekurangan, oranglain yang hidup tak hanya untuk memikirkan perasaanmu. Ikhlaskan, segala yang terjadi padamu adalah kehendak dari yang Maha Penyayang. Perbaikan, muhasabah diri untuk terus mencari ridho dari Sang Illahi Rabbi. Semoga kita senantiasa mendewasa di atas segala rasa, tabah karenanya dan bersyukur bahwasanya hidup memang drama terbaik dari-Nya.

Komentar
Posting Komentar