Langsung ke konten utama

Surat Untuk Masa Depan

Untukmu yang tengah duduk di sampingku.

Bismillah, assalamu'alaykum. Bagaimana kabarmu hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya. 

Aku ingin menuliskan beberapa kalimat, mungkin sedikit panjang. Semoga nanti kamu ada waktu untuk menyantap tulisanku ini dibersamai secangkir teh hijau di teras rumah ya :). Ini aku, pendampingmu, sahabat, teman hidupmu. Kamu mungkin sekarang merasa aneh, karena membaca tulisan ini saat kita sudah saling bertegur sapa dalam ikatan suci. Tak apa, meski sudah ku upload terlalu lama, aku benar-benar ingin kamu membaca ini tepat di sampingku, duduk berdua di teras rumah, bersama secangkir teh hijau yang hangat. Kamu tersipu ya, kita benar-benar melakukan ini. Ini adalah mimpiku di usia 19 tahun, beberapa tahun yang lalu sebelum kamu datang dan mengisi hari-hariku. Ah sungguh aneh menulis surat untuk masa depan, bahkan kita belum saling mengenal. Namamu saja aku tak tahu, aku bahkan tak tahu kamu menyukai teh hijau hangat atau tidak.

Tapi, aku tahu, siapapun kamu yang sedang bersamaku membaca tulisan ini di teras bersama secangkir teh hijau. Aku percaya kamu yang terbaik yang Allah kirimkan untukku. Aku yakin, senyumanmu pasti sangat manis, melebihi senja yang saat ini sedang kita nikmati. Aku sungguh percaya kamu pasti telah berjuang cukup keras sampai akhirnya memberanikan diri menemui Bapak dan Ibuk di rumah. Aku yakin, kamu telah ribuan kali menghafal kalimat ajaib yang menyatukan 2 hati yang tak saling mengetahui. Aku sangat percaya, istikharahmu menghantarkanmu padaku. Aku sungguh sangat mengagumimu. 

Akan tetapi, akulah teman hidupmu yang penuh kekurangan. Aku mungkin tidak sesempurna perasaanku padamu, jujur saja sejak pertama kali menuliskan ini aku sudah meniatkan mengabdi, dan melimpahkan sisa hidupku untuk menggapai ridhomu. Surat ini aku tulis sebagai ucapan maaf sekaligus ungkapan terimakasih telah memilihku menjadi yang pertama dan in syaa Allah selamanya sampai jannah-Nya. 

Maafkan aku, Wahida Yuyun Suciati perempuan yang mungkin mudah melabuhkan hati, aku sungguh sudah berusaha agar hanya kau yang memilikinya, dan kini ketika kau membaca ini, hanya kau pemilik hati ini. Aku juga minta maaf apabila dalam proses penungguanku aku tak seistiqomah dirimu, Kini kau bisa menegurku dengan kelemahlembutan dirimu kapanpun kau mau. Aku minta maaf ya, mimpiku hanya sebatas aku dan kita, mungkin terlalu egois ya, aku akan berusaha untuk mewujudkannya untuk Islam dan Indonesia berdua bersamamu. Maafkan aku, dengan segala keribetan syarat yang Bapak pinta, aku tahu kamu telah mengorbankan banyak hal demi aku. Semoga Allah memberkahi jalan yang kita pilih.

Terimakasih, sudah menerima, melapangkan dada, membesarkan hati, mengejar takdirmu dengan ikhlas sepenuh hati, dengan cara yang Allah ridhoi. Kamu pasti sangat keren ketika datang ke rumah, maafkan aku juga karena memaksamu mengenakan gaun berwarna merah muda di pernikahan kita. Terimakasih telah mengganti cat tembok kamar menjadi warna merah muda. Terimakasih telah belajar menjadi orang Magelang yang tinggal di lereng gunung, aku tahu itu sangat sulit tapi kamu bisa. 

Kau tahu, saat kalimat suci terucap dari bibirmu, mulai saat itu aku benar-benar berkomitmen pada hati untuk tak lagi mengusiknya dengan pikiran lain selain memikirkanmu, aku berjanji tak lagi merindukan hal lain selain kenangan bersamamu, aku bersungguh-sungguh untuk tak lagi menghayal selain memimpikan membangun cita menemani perjuanganmu. Aku benar-benar telah mengikat janjiku ini, maka apabila aku lupa dan keliru, tolong tegur aku. Aku ini juga perempuan biasa yang kadang-kadang bisa lupa. Mungkin juga saat kita tua nanti penyakit pikun mulai datang menghampiri, maka dari itu aku memintamu untuk mengingatkan ku lagi tentang tujuan itu. Tentang ridho-Nya dan ridhomu. 

Aku sudah belajar untuk mengobati orang sakit, selain mereka yang kesakitan kamu adalah prioritasku. Maka izinkan aku merawat kamu dan anak-anak dengan ilmuku, tapi sungguh aku selalu berdo'a agar kita selalu baik-baik saja. Aku ingin kita membeli buku untuk kemudian kita baca, lalu saling bercerita. Kita juga harus mencoba untuk memasak bersama, mungkin kamu tidak sejago aku dalam hal ini, tapi aku benar-benar ingin kita memasak bersama. Kajian datang berdua dan memberi kebermanfaatan pada sesama. Kita ikhtiarkan untuk menjadi pasangan yang tiada henti berjuang di jalan-Nya. Tidak peduli seberat apa tantangannya, aku tahu kita berdua pasti bisa. Kita adalah keluarga yang dilahirkan oleh harapan dan keoptimisan. Namun tetap berproses dengan ketulusan dan keihlasan.

Aku banyak maunya ya hehe, maaf sekali lagi, aku sungguh berterimakasih padamu kekasih hati, saat ini ketika kita sedang menikmati secangkir teh hijau hangat sembari melihat senja, aku akan terus tersenyum seperti saat ini. Aku janji.

Ditulis oleh seseorang yang telah mencuri tulang rusukmu ketika masih kuliah di Ilmu Keperawatan UGM tahun 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...