Langsung ke konten utama

Ikhlasin Dulu Aja


Suatu masa di hidup kita pasti akan ada saja, yang datang tanpa diundang atau pergi tanpa pamitan. Jatuh dan terjungkal-jungkal atau terbang melayang-layang. Bahagia menebar senyum atau bersedih penuh murung. Sekelebat rindu yang menggebu-gebu atau sesak dada tak ingin bertemu. Pernah pula gerimis turun menjadi butiran air yang menyuburkan hati atau justru badai tapi malah membuat lalai. Kita tak pernah tahu, apa yang akan hadir esok hari, satu jam kedepan, satu menit ke depan, atau bahkan detik berikutnya. Semua penuh misteri hingga kadang kita ragu dan membuat kesal hati pada semua yang tak pasti. 

Wajar, saat gagal, saat berhasil, saat dimana hati kita disesaki rasa yang terpengaruh oleh keadaan, wajar apabila ekspresi terlontar penuh dengan emosi, terlebih jika sudah salah orientasi. Hasil lagi hasil lagi, kapan kita akan menilai proses yang selalu berpihak pada kebaikan? Kapan kita akan menilai betapa mahalnya proses yang telah susah payah kita bangun? 

Ikhlasin dulu aja sebelum memulai semuanya, baru setelahnya kita ikhtiarkan segala kemampuan kita untuk menggapai ridho-Nya. 
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al Ma’idah: 23)
Beberapa waktu lalu aku mnemukan tulisan dari sahabat in syaa Allah till Jannah di timeline tentang sebuah kegagalan. Kegagalan atas perencanaan diri, atas usaha yang susah payah di bangun sejak beberapa detik lalu, hari, bulan, atau bahkan beberapa tahun lalu. Sebuah kegagalan tentang menangkap bangkai anak kambing. 

[Tentang Kegagalan Menangkap Bangkai Anak Kambing]
Alhamdulillah, segala puji bagi Engkau. Ya Allah, Engkau telah menggagalkan rencana-rencana duniawinya. Terasa sedih, hancur dan hampa pada awalnya. Tapi sikap seperti itu bukanlah hal yang dibenarkan. Bagus kau segera sadar dan memilih bersyukur. Tauhid. kamu hamba yang bertauhid bukan? Hamba yang bertauhid pasti bisa menerima dan melapangkan hati untuk takdir walau pahit betul rasanya. Allah telah menuliskan takdir makhluk-Nya 50 ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi. Sedangkan kita sejak kapan berencana? Lima tahun lalu, 3 bulan lalu, 2 minggu lalu, kemarin atau beberapa menit yang lalu? Tidak pantas rasanya jika ingin protes dan menganggap rencana dadakan lebih baik dari ketetapan-Nya. Rencana dan ketetapan Allah berkali-kali lipat jauh lebih manis dari keinginan dan rencanamu.Jangan sedih, jangan cemas, takdir Allah tidaklah kejam. Ketahuilah dunia ini lebih buruk daripada bangkai anak kambing yang cacat.

Manis sekali bukan tulisan itu? Jadi, ikhlasin dulu aja. Niatkan untuk selalu melangkah menuju ridho-Nya, bicara hasil adalah obrolan nomor sekian apalagi jika itu hanya menyangkut tentang dunia. Nikmati proses ini dengan rasa syukur dan ikhlas atas ketetapan-Nya. Aku tahu itu berat, untuk itu aku menuliskan ini sebagai pengingat, kalau kemarin kita belum bisa, mulai detik ini kita harus mencoba melapangkan hati dan menerima dengan ikhlasin dulu aja. Barakallah sahabat-sahabatku in syaa Allah sampai jannah-Nya, semoga Allah beri kita hidayah selama-lamanya. Aamiin.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...