Langsung ke konten utama

Mengakhiri Sebelum Memulai (Dari Binar)

 

Sudah lama, sudah terlalu lama, sampai saya lupa rasanya seperti apa. Kalau tidak salah, 5 tahun lalu saya pernah di posisi ini. Posisi yang mengharuskan saya untuk lebih teguh menjaga hati, yang membuat saya tiada henti senyum-senyum sendiri. Saya pikir ini akan segera berlalu, mengingat saya juga sudah tak seperti dulu. Saya yang sekarang lebih memilih berhati-hati, apalagi perkara hati. Saya juga lebih bisa mengontrol emosi, memastikan bahwa saya tidak akan berlebihan menaruh hati. Tidak lagi-lagi saya semaikan benih-benih harapan, membiarkannya semakin hari semakin berkembang. Tidak, saya yang sekarang sudah pandai dalam urusan cinta, tidak gegabah mengakui bahwa dia yang paling sempurna, berpikir jauh melihat realita, bahwa perasaan saya mungkin saja hanya akan berhenti di saya, dan tidak akan berlanjut kemana-mana. Maka tidak akan saya biarkan cerita ini menjadi cerita yang panjang, selagi kita masih ditakdirkan berjalan menuju masing-masing tujuan. Saya ingin mengakhiri rasa yang seharusnya memang tidak saya punya dan seharusnya tidak saya terima. Singkatnya, saya lebih memilih mengasah diri menjadi pribadi yang baik dan lebih baik lagi. Tapi bukan untukmu yang bahkan belum tentu diciptakan Allah buat saya. Saya ingin baik di hadapan-Nya, agar kelak dipertemukan dengan dia yang baik pula. Baik berdua akan lebih baik untuk menebarkan kebaikan bersama di jalan-Nya. Kebaikan itu akan lebih berkesan, dibandingkan dengan tulisan yang mengandung segala hal tentang kamu, yang entah dimana ujungnya. Biar saja saya melupa rasa, ini akan lebih melegakan buat saya daripada harus mengingatmu sepanjang hari, membuat ricuh pikir dan hati, merunyamkan skripsi. Untuk itu saya singkatkan saja cerita saya ini, meskipun bisa saja saya panjangkan. Saya telah memilih untuk menyelesaikan cerita ini bahkan sebelum sempat memulainya. Tapi saya yakin dengan pilihan saya, ini yang terbaik, juga untuk kamu yang terlihat baik di mata saya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...