Sudah lama, sudah
terlalu lama, sampai saya lupa rasanya seperti apa. Kalau tidak salah, 5 tahun
lalu saya pernah di posisi ini. Posisi yang mengharuskan saya untuk lebih teguh
menjaga hati, yang membuat saya tiada henti senyum-senyum sendiri. Saya pikir
ini akan segera berlalu, mengingat saya juga sudah tak seperti dulu. Saya yang
sekarang lebih memilih berhati-hati, apalagi perkara hati. Saya juga lebih bisa
mengontrol emosi, memastikan bahwa saya tidak akan berlebihan menaruh hati.
Tidak lagi-lagi saya semaikan benih-benih harapan, membiarkannya semakin hari
semakin berkembang. Tidak, saya yang sekarang sudah pandai dalam urusan cinta, tidak
gegabah mengakui bahwa dia yang paling sempurna, berpikir jauh melihat realita,
bahwa perasaan saya mungkin saja hanya akan berhenti di saya, dan tidak akan berlanjut
kemana-mana. Maka tidak akan saya biarkan cerita ini menjadi cerita yang
panjang, selagi kita masih ditakdirkan berjalan menuju masing-masing tujuan.
Saya ingin mengakhiri rasa yang seharusnya memang tidak saya punya dan seharusnya
tidak saya terima. Singkatnya, saya lebih memilih mengasah diri menjadi pribadi
yang baik dan lebih baik lagi. Tapi bukan untukmu yang bahkan belum tentu diciptakan
Allah buat saya. Saya ingin baik di hadapan-Nya, agar kelak dipertemukan dengan
dia yang baik pula. Baik berdua akan lebih baik untuk menebarkan kebaikan
bersama di jalan-Nya. Kebaikan itu akan lebih berkesan, dibandingkan dengan
tulisan yang mengandung segala hal tentang kamu, yang entah dimana ujungnya.
Biar saja saya melupa rasa, ini akan lebih melegakan buat saya daripada harus
mengingatmu sepanjang hari, membuat ricuh pikir dan hati, merunyamkan skripsi. Untuk
itu saya singkatkan saja cerita saya ini, meskipun bisa saja saya panjangkan. Saya
telah memilih untuk menyelesaikan cerita ini bahkan sebelum sempat memulainya.
Tapi saya yakin dengan pilihan saya, ini yang terbaik, juga untuk kamu yang
terlihat baik di mata saya.

Komentar
Posting Komentar