Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Muhasabah Diri [Menjemput Hidayah]

Suatu ketika, seorang sahabat datang kepadaku dan mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya, “enak ya jadi kamu, bisa istiqomah di jalan Allah. Boleh tahu tipsnya atau caranya gimana nggak?” Sepertinya dia sangat serius dengan pertanyaannya, terlebih sekarang dia terlihat tertarik dengan kerudung panjangku. Ketika ditanya seperti itu aku jadi miris dengan diriku sendiri, selama ini banyak orang yang menganggap diri ini telah baik dan istiqomah, padahal itu hanya karena Allah yang metutupi aib-aibku, kalau bukan karena Allah mungkin tak ada satupun manusia yang bersedia berbicara atau bahkan hanya sekadar bertegur sapa denganku. Tapi dia terlihat sangat bersemangat memulai langkahnya dengan mantap berhijrah karena Allah. Dengan kata-kata dan ilmuku yang sangat minim aku jelaskan beberapa hal untuknya, tapi aku menyarankan padanya untuk mendengar kajian yang temanya sama dengan yang sedang ia resahkan dan ingin dia ketahui, mengingat ilmu ku masih minim sekali, sepertinya jawaba...

Muhasabah Diri [Penilai Terbaik]

Kadang kesabaran kita lelah bersabar, ego kita lelah tertekan, amarah kita lelah meredam. Merasa diri sudah bekerja sekeras mungkin, tetapi tidak ada hasil yang didapat. Merasa sudah berkontribusi sebanyak mungkin, tapi justru tidak sesuai dengan ekspetasi. Merasa yang paling dan yang paling-paling tapi tidak dihargai. Pernah merasa begitu? Kalau aku sih pernah, sering malah (tapi in syaa Allah lagi belajar ikhlas sampai sekarang, karena ikhlas itu sulit. Makanya belajarnya perlu ketekunan dan perjuangan). Menyalahkan orang lain atas nilai dan stigma yang kita terima, seolah ingin mengatakan “Hei aku sudah begini aku ini sudah begitu, aku sudah kerja keras semaksimal yang aku bisa. Lantas sekarang beraninya menilaiku demikian. Hei apakah kamu tidak bisa membedakan antara peduli dengan amarah? Apakah kamu tidak mengetahui segala yang telah aku lakukan karena aku peduli padamu, pada kebaikan kita semua.” Pernah terucap kata-kata itu, atau hanya terbesit di dalam hati? Pernah seperti it...

Menebar Bacaan #1 Ingin Kupilih Takdirku

Jatuh atau Cinta?

  "Karena kalau sudah kadung cinta, apapun akan kita lakukan untuk memperjuangkannya" Perasaan tak karuan itu sudah singgah di hatiku sejak beberapa bulan lalu. Tak pantas rasanya apabila aku terlalu dalam menaruh harap pada ia yang tak seharusnya menetap di hati yang tak lain tak bukan hanya titipan dari-Nya. Apalah daya, jika cinta itu semakin menemukan muaranya, mengalir ke tempat dimana ia memang seharusnya bermuara kemudian menetap di sebuah hati yang ingin sekali dia miliki. Sungguh, apabila kita tak benar-benar pandai menyimpannya dan Allah tak menutupinya maka entahlah apa yang akan terjadi di kemudian hari. Aku masih ingat betul kala itu ketika mataku tak selebar sekarang untuk melihat hal yang baik serta membuang yang buruk, telingaku yang masih disibukkan dengan cerita-cerita darinya yang kini untuk sekadar bereuni saja aku akan benar-benar memikirkan baik buruknya, manfaat dan mudharatnya. Aku masih ingat ketika dengan senang hati tangan ini bersinggu...

Menyortir Amanah

“Amanah tak pernah memanggil orang hebat, tapi amanah menghebatkan orang yang terpanggil”. Kalimat singkat yang pernah disampaikan oleh mas Narendra Rangga Reswara pada diskusi online di grup Keluarga Inspirasia BEM FK-KMK UGM beberapa waktu lalu. Bagi para pengikut diskusi online yang sedang terkantuk-kantuk pasti akan mendadak melek dan mencoba memahami kalimat tersebut, luar biasa makjleb sekali kalimat ini. Pengemban amanah yang mana yang tak merasa hebat kala kalimat itu dilontarkan? Mungkin kita semua sempat melambung tinggi, jauh hingga menembus langit ke tujuh, kemudian mengitari angkasa raya, yang dikelilingi oleh jutaan bintang bertebar di hektaran langit Allaah yang maha luas (alay bet yahhh). Kita merasa hebat karena terlalu sering mendapatkan amanah yang tak jarang membuat orang-orang di   sekitar kita berpikir bahwa “ We’re the superman, busily productive ”.  Namun pernahkah kita merenung dan mulai menerka kembali memori yang masih tersisa, meng...