Langsung ke konten utama

Menebar Bacaan #1 Ingin Kupilih Takdirku




Aku menangis membaca beberapa kalimat yang ada di buku ini. Ya novel ini begitu mengena di hatiku, entah karena aku sudah lama tidak membaca novel atau entah karena faktor lain dari novel tersebut yang berhasil membawaku memasuki dunia tokoh-tokohnya. Novel ini aku beli sekitar 3 bulan lalu, tetapi aku biarkan berdebu di kamar kontrakan dengan dalih aku merasa disibukkan dengan agenda lain akhir-akhir ini. Hahaha ini hanya alasan saja sebenarnya, karena jika disempatkan, untuk melahap 3 buku yang aku beli hanya memerlukan waktu 4-5 hari saja. Tapi begitulah manusia, terkadang suka mengada-ada kapasitas diri yang sebenarnya mampu menjadi tidak mampu atau malah sebaliknya.

Kali ini aku akan berbagi bacaan tentang novel ini, sebenarnya bukan karena apa-apa, tapi jujur saja akhir-akhir ini aku sedang muak dengan buku pengembangan diri. Bukan karena sudah terlalu sering membaca, tapi karena aku harus membacanya berulang-ulang agar paham dengan isinya. Berbeda cerita apabila novel yang kubaca, dalam sekejap saja aku sudah mengerti apa yang ingin penulis tuangkan dalam setiap guratan tangannya. Ya aku memang tipe yang harus mengerti suatu hal dari awal sampai akhir, memahami setiap kejadian dan memikirkan serta menebak-nebak akhir ceritanya. Berbeda sekali dengan buku bacaan lain, novel memang tidak pernah membosankan untuk dibaca, seperti halnya buku-buku tentang puisi yang meski alurnya sulit ditebak dan pemahaman yang ditangkap dengan yang penulis ingin sampaikan berbeda, tapi tetap saja hal tersebut masih sangat menarik bagiku. Walaupun akhir-akhir ini aku memutuskan bergeser haluan sedikit, untuk tetap belajar menyukai semua genre jendela ilmu.

Buku ini berjudul “Ingin Kupilih Takdirku” karya mbak Desti Anor yang dicetak pertama kali bulan Juni tahun ini, diterbitkan oleh Tinta Medina. Mbak Desti Anor sendiri merupakan seorang muslimah yang saat ini mulai fokus untuk menulis buku-buku kemuslimahan, motivasi, dan seputar kemahasiswaan. Karya-karyanya dikemas sedemikian rupa agar pesan utamanya tentang agama, sosial, dan negara dapat tersampaikan dengan baik. Dalam sampul belakang “Ingin Kupilih Takdirku” dituliskan,

Di dunia ini, apa ada yang bisa memilih takdirnya?
Jika sebagian orang bisa hidup kaya raya dan bahagia bersama keluarga tercinta, kenapa di sisi lain ada yang tertakdir amat nestapa? Keluarga tak lagi menyejukkan, bahkan kematian yang membawa pergi separuh semangat hidup.
Lalu, apa pantas manusia mempertanyakan takdir yang dianggapnya adil?
Jika seluruh penduduk bumi jumlahnya tujuh miliar, bisa jadi akan ada pertanyaan tentang takdir sebanyak tujuh miliar pula.
Kadang, kita memang perlu mengejar takdir.
Bukan untuk memaksanya menjadi bagian hidup.
Tapi, sekadar mengusahakan jadi nyata.
Sekadar memastikan, apakah benar dia takdirku?

Buku dengan 263 halaman ini  memuat kisah tentang seorang gadis bernama Galleta, seorang mualaf berparas menawan, hatinya begitu mulia, shalihah luar biasa. Sejak menjadi anak rantau selama di SMA Galleta yang berteman dengan Ifa begitu tertarik dengan Islam. Ifa adalah sahabatnya yang selalu setia mendampingi Gelleta bahkan di setiap fase-fase sulitnya. Meskipun ketertarikannya dengan Islam sudah diujung tanduk, Galleta tak bersegera untuk mengucap 2 kalimat syahadat. Masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung di hatinya, yang terkadang membuat ia ragu. Ini adalah pertanyaan yang mungkin aku juga baru terpikirkan karena membaca novel ini, tapi di lain sisi aku takut juga pertanyaan ini membuat ragu dengan imanku saat ini. Pertanyaan Galleta ini sungguh membuat tercengang saat aku membaca novel ini. “Kalau Tuhan tidak beranak dan tidak diperanakkan seperti yang dikatakan dalam kitab suci tersebut, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?” pertanyaan yang mungkin juga pernah terbesit diantara kita. Dan yang membuatku semakin membuka mata adalah jawabannya. Dalam novel tersebut dijelaskan bahwa seorang ustadz dari luar negeri menjawab pertanyaan Galleta dengan sebuah perumpamaan. “Jika Pak Alex akan melahirkan, tebaklah apakah anaknya akan laki-laki atau perempuan?” Bagaimana mungkin pertanyaan yang sudah salah dapat dijawab, Pak Alex adalah seorang laki-laki dan tidak akan mungkin melahirkan, tidak pula laki-laki ataupun perempuan. Pertanyaan tersebut tidak logis untuk dijawab, sama halnya pertanyaan Galleta, siapa yang menciptakan Tuhan? Itu pertanyaan yang salah dan tidak logis. Kedudukan tertinggi akal manusia adalah ketika dipakai terus-menerus untuk berpikir sampai ambang batas tertinggi, dia akan berhenti dengan sendirinya. Tidak akan sampai untuk memikirkan hal yang lebih jauh dari logika manusia.

Semenjak saat itu Galleta mentap masuk Islam. Tidak mudah buatnya untuk menjadi muslimah taat. Galleta yang terus kukuh dengan pilihannya ketika ia baru saja lulus dari bangku SMA harus menelan pahitnya kehidupan. Ayahnya sangat menentang keputusannya untuk memilih Islam, ia diusir dari rumah karena pilihannya tersebut. Beruntungnya atas pertolongan Allah Galleta ditakdirkan bertemu dengan Maizy, seorang anak dokter yang mempunyai usaha kost di daerah Semarang. Ia dapat bertahan hidup hingga hati Ayahnya melunak.

Perjalanan hidup Galleta tidak mudah, Allah memang Yang Terbaik dengan segala skenario-Nya. Takdir membawa Galleta menjadi penulis novel yang banyak digemari, hal tersebut pula membawanya ke Amerika dan mengunjungi Patung Liberty, berharap sesorang datang menemuinya, seseorang yang sering ia temui tapi tak pernah ia ketahui kepribadiannya. Meski sang Ayah menolak untuk menghadiri pernikahan tapi Galleta bahagia, setidaknya ia mendapat ridho Ayah yang sangat dicintainya. Haq namanya, laki-laki beruntung yang mendapat gadis shalihah itu. Haq adalah mahasiswa semester akhir yang tak kunjung menyelesaikan kuliahnya karena harus pandai membagi waktu kerja, kuliah, dan mengurus adiknya yang terkena TB. Ibunya telah tiada dan Ayahnya pergi meninggalkan entah kemana.

Sayangnya meski Haq juga ke Amerika utuk mengurus urusan kantor bosnya, mereka tidak saling bertatap muka kecuali ketika Galleta sudah hampir kembali di Indonesia. Apalagi yang dilakukan Haq selain melamar? Hemmm tapi ternyata Galleta masih berperasaan cemas, ia pikir Patung Liberty adalah jawaban dari semua do’a-do’anya, namun Allah berkehendak lain. Allah ingin mereka bertemu lagi di tempat berbeda. Tower Asma’ul Husna di Masjid Agung Semarang, di sanalah Galleta memberikan jawabnya dan di sanalah mereka resmi menjadi pasangan dunia dan akhirat. 
“Tertatih berdarah-darah menuju-Mu, lebih kusukai, daripada hidup dengan jalan lain tanpa-Mu, meski menyenangkan, menggiurkan, dan berlimpah segala sesuatunya”
Itu adalah prinsip Galleta yang ingin disampaikan oleh mbak Desti Anor, meskipun hanya tokoh dalam novel tapi darinya aku belajar banyak. Bagaimana ia begitu tegar dengan cobaan, bagaimana ia begitu menggenggam pronsipnya itu. Dan baginya obat dari segalanya adalah Q.S al-Insyirah ayat 5-6 "Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan". Ia tak pernah ragu bahwa janji Allah itu pasti. Novel ini mengajarkan tentang ketangguhan, kesabaran, rasa syukur, keikhlasan, serta tentang jodoh (hahaha ini bagian favoritnya). Tapi justru bagian yang paling menampar adalah apabila merenungi seorang Galleta yang seorang mualaf dengan berbagai liku kehidupan serta takdirnya, kekukuhan imannya begitu melekat dan bahkan dapat menjadi motivasi orang lain di sekitarnya. Lantas bagaimana dengan kita, yang Islam sejak lahir? Sudah seyakin apa dengan takdir Allah, sudah sejauh mana tingkat iman kita terhadap Allah, sudah berbuat apa untuk mendirikan agama Allah?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...