Aku menangis membaca beberapa kalimat yang
ada di buku ini. Ya novel ini begitu mengena di hatiku, entah karena aku sudah
lama tidak membaca novel atau entah karena faktor lain dari novel tersebut yang
berhasil membawaku memasuki dunia tokoh-tokohnya. Novel ini aku beli sekitar 3
bulan lalu, tetapi aku biarkan berdebu di kamar kontrakan dengan dalih aku
merasa disibukkan dengan agenda lain akhir-akhir ini. Hahaha ini hanya alasan saja
sebenarnya, karena jika disempatkan, untuk melahap 3 buku yang aku beli hanya
memerlukan waktu 4-5 hari saja. Tapi begitulah manusia, terkadang suka
mengada-ada kapasitas diri yang sebenarnya mampu menjadi tidak mampu atau malah
sebaliknya.
Kali ini aku akan berbagi bacaan tentang
novel ini, sebenarnya bukan karena apa-apa, tapi jujur saja akhir-akhir ini aku
sedang muak dengan buku pengembangan diri. Bukan karena sudah terlalu sering
membaca, tapi karena aku harus membacanya berulang-ulang agar paham dengan
isinya. Berbeda cerita apabila novel yang kubaca, dalam sekejap saja aku sudah
mengerti apa yang ingin penulis tuangkan dalam setiap guratan tangannya. Ya aku
memang tipe yang harus mengerti suatu hal dari awal sampai akhir, memahami
setiap kejadian dan memikirkan serta menebak-nebak akhir ceritanya. Berbeda
sekali dengan buku bacaan lain, novel memang tidak pernah membosankan untuk
dibaca, seperti halnya buku-buku tentang puisi yang meski alurnya sulit ditebak
dan pemahaman yang ditangkap dengan yang penulis ingin sampaikan berbeda, tapi
tetap saja hal tersebut masih sangat menarik bagiku. Walaupun akhir-akhir ini
aku memutuskan bergeser haluan sedikit, untuk tetap belajar menyukai semua genre jendela ilmu.
Buku ini berjudul “Ingin Kupilih Takdirku”
karya mbak Desti Anor yang dicetak pertama kali bulan Juni tahun ini, diterbitkan
oleh Tinta Medina. Mbak Desti Anor sendiri merupakan seorang muslimah yang saat
ini mulai fokus untuk menulis buku-buku kemuslimahan, motivasi, dan seputar
kemahasiswaan. Karya-karyanya dikemas sedemikian rupa agar pesan utamanya
tentang agama, sosial, dan negara dapat tersampaikan dengan baik. Dalam sampul
belakang “Ingin Kupilih Takdirku” dituliskan,
Di
dunia ini, apa ada yang bisa memilih takdirnya?
Jika
sebagian orang bisa hidup kaya raya dan bahagia bersama keluarga tercinta,
kenapa di sisi lain ada yang tertakdir amat nestapa? Keluarga tak lagi
menyejukkan, bahkan kematian yang membawa pergi separuh semangat hidup.
Lalu,
apa pantas manusia mempertanyakan takdir yang dianggapnya adil?
Jika
seluruh penduduk bumi jumlahnya tujuh miliar, bisa jadi akan ada pertanyaan
tentang takdir sebanyak tujuh miliar pula.
Kadang,
kita memang perlu mengejar takdir.
Bukan
untuk memaksanya menjadi bagian hidup.
Tapi,
sekadar mengusahakan jadi nyata.
Sekadar
memastikan, apakah benar dia takdirku?
Buku dengan 263 halaman ini memuat kisah tentang seorang gadis bernama
Galleta, seorang mualaf berparas menawan, hatinya begitu mulia, shalihah luar
biasa. Sejak menjadi anak rantau selama di SMA Galleta yang berteman dengan Ifa
begitu tertarik dengan Islam. Ifa adalah sahabatnya yang selalu setia
mendampingi Gelleta bahkan di setiap fase-fase sulitnya. Meskipun ketertarikannya
dengan Islam sudah diujung tanduk, Galleta tak bersegera untuk mengucap 2
kalimat syahadat. Masih ada beberapa pertanyaan yang menggantung di hatinya,
yang terkadang membuat ia ragu. Ini adalah pertanyaan yang mungkin aku juga
baru terpikirkan karena membaca novel ini, tapi di lain sisi aku takut juga
pertanyaan ini membuat ragu dengan imanku saat ini. Pertanyaan Galleta ini
sungguh membuat tercengang saat aku membaca novel ini. “Kalau Tuhan tidak
beranak dan tidak diperanakkan seperti yang dikatakan dalam kitab suci
tersebut, lalu siapa yang menciptakan Tuhan?” pertanyaan yang mungkin juga
pernah terbesit diantara kita. Dan yang membuatku semakin membuka mata adalah
jawabannya. Dalam novel tersebut dijelaskan bahwa seorang ustadz dari luar
negeri menjawab pertanyaan Galleta dengan sebuah perumpamaan. “Jika Pak Alex
akan melahirkan, tebaklah apakah anaknya akan laki-laki atau perempuan?”
Bagaimana mungkin pertanyaan yang sudah salah dapat dijawab, Pak Alex adalah
seorang laki-laki dan tidak akan mungkin melahirkan, tidak pula laki-laki
ataupun perempuan. Pertanyaan tersebut tidak logis untuk dijawab, sama halnya
pertanyaan Galleta, siapa yang menciptakan Tuhan? Itu pertanyaan yang salah dan
tidak logis. Kedudukan tertinggi akal manusia adalah ketika dipakai terus-menerus
untuk berpikir sampai ambang batas tertinggi, dia akan berhenti dengan
sendirinya. Tidak akan sampai untuk memikirkan hal yang lebih jauh dari logika
manusia.
Semenjak saat itu Galleta mentap masuk
Islam. Tidak mudah buatnya untuk menjadi muslimah taat. Galleta yang terus
kukuh dengan pilihannya ketika ia baru saja lulus dari bangku SMA harus menelan
pahitnya kehidupan. Ayahnya sangat menentang keputusannya untuk memilih Islam,
ia diusir dari rumah karena pilihannya tersebut. Beruntungnya atas pertolongan
Allah Galleta ditakdirkan bertemu dengan Maizy, seorang anak dokter yang
mempunyai usaha kost di daerah Semarang. Ia dapat bertahan hidup hingga hati
Ayahnya melunak.
Perjalanan hidup Galleta tidak mudah, Allah
memang Yang Terbaik dengan segala skenario-Nya. Takdir membawa Galleta menjadi
penulis novel yang banyak digemari, hal tersebut pula membawanya ke Amerika dan
mengunjungi Patung Liberty, berharap sesorang datang menemuinya, seseorang yang
sering ia temui tapi tak pernah ia ketahui kepribadiannya. Meski sang Ayah
menolak untuk menghadiri pernikahan tapi Galleta bahagia, setidaknya ia
mendapat ridho Ayah yang sangat dicintainya. Haq namanya, laki-laki beruntung
yang mendapat gadis shalihah itu. Haq adalah mahasiswa semester akhir yang tak
kunjung menyelesaikan kuliahnya karena harus pandai membagi waktu kerja,
kuliah, dan mengurus adiknya yang terkena TB. Ibunya telah tiada dan Ayahnya
pergi meninggalkan entah kemana.
Sayangnya meski Haq juga ke Amerika utuk
mengurus urusan kantor bosnya, mereka tidak saling bertatap muka kecuali ketika
Galleta sudah hampir kembali di Indonesia. Apalagi yang dilakukan Haq selain
melamar? Hemmm tapi ternyata Galleta masih berperasaan cemas, ia pikir Patung
Liberty adalah jawaban dari semua do’a-do’anya, namun Allah berkehendak lain.
Allah ingin mereka bertemu lagi di tempat berbeda. Tower Asma’ul Husna di
Masjid Agung Semarang, di sanalah Galleta memberikan jawabnya dan di sanalah
mereka resmi menjadi pasangan dunia dan akhirat.
“Tertatih berdarah-darah menuju-Mu, lebih kusukai, daripada hidup dengan jalan lain tanpa-Mu, meski menyenangkan, menggiurkan, dan berlimpah segala sesuatunya”
Itu adalah prinsip Galleta yang ingin
disampaikan oleh mbak Desti Anor, meskipun hanya tokoh dalam novel tapi darinya
aku belajar banyak. Bagaimana ia begitu tegar dengan cobaan, bagaimana ia
begitu menggenggam pronsipnya itu. Dan baginya obat dari segalanya adalah Q.S al-Insyirah ayat 5-6 "Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan". Ia tak pernah ragu bahwa janji Allah itu pasti. Novel ini
mengajarkan tentang ketangguhan, kesabaran, rasa syukur, keikhlasan, serta
tentang jodoh (hahaha ini bagian favoritnya). Tapi justru bagian yang paling
menampar adalah apabila merenungi seorang Galleta yang seorang mualaf dengan
berbagai liku kehidupan serta takdirnya, kekukuhan imannya begitu melekat dan
bahkan dapat menjadi motivasi orang lain di sekitarnya. Lantas bagaimana dengan
kita, yang Islam sejak lahir? Sudah seyakin apa dengan takdir Allah, sudah sejauh
mana tingkat iman kita terhadap Allah, sudah berbuat apa untuk mendirikan agama
Allah?

Komentar
Posting Komentar