Langsung ke konten utama

Muhasabah Diri [Menjemput Hidayah]


Suatu ketika, seorang sahabat datang kepadaku dan mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya, “enak ya jadi kamu, bisa istiqomah di jalan Allah. Boleh tahu tipsnya atau caranya gimana nggak?” Sepertinya dia sangat serius dengan pertanyaannya, terlebih sekarang dia terlihat tertarik dengan kerudung panjangku. Ketika ditanya seperti itu aku jadi miris dengan diriku sendiri, selama ini banyak orang yang menganggap diri ini telah baik dan istiqomah, padahal itu hanya karena Allah yang metutupi aib-aibku, kalau bukan karena Allah mungkin tak ada satupun manusia yang bersedia berbicara atau bahkan hanya sekadar bertegur sapa denganku. Tapi dia terlihat sangat bersemangat memulai langkahnya dengan mantap berhijrah karena Allah. Dengan kata-kata dan ilmuku yang sangat minim aku jelaskan beberapa hal untuknya, tapi aku menyarankan padanya untuk mendengar kajian yang temanya sama dengan yang sedang ia resahkan dan ingin dia ketahui, mengingat ilmu ku masih minim sekali, sepertinya jawabanku tidak akan cukup untuk memuaskan pertanyaannya. Qadarullah, pagi itu aku melihatnya sudah berkerudung panjang. “Ma syaa Allah, barakallah yaa”, kemudian kami berlanjut mendiskusikan tentang Islam yang di hari-hari berikutnya membuatku semakin sering merenung. Aku bersyukur, karena hal itu aku ditampar keras, lagi-lagi Allah ingin yang terbaik untukku.

“Menjilbabi hati”, terkadang mejadi alasan seseorang untuk menunda penjemputan hidayahnya. Padahal berjilbab panjang bukan berarti mempunyai pengetahuan agama lebih daripada yang belum istiqomah, pun sebaliknya belum istiqomah bukan berarti mengindikasikan orang tersebut punya paham agama yang minim. Tapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk membenturkan kedua hal tersebut, berjilbab dan berpemahaman agama yang baik adalah dua hal yang bisa berjalan beriringan, sudah berjilbab panjang tapi membiarkan diri dengan segala keterbatasan ilmu agama itu juga tidak baik. Semakin taat seorang hamba dengan aturan Allah, akan semakin berat tanggungjawab yang harus diemban, sebab penilaian orang lain terhadap kita bisa dilihat pertama kali oleh pakaian yang kita kenakan, hal yang paling umum diperhatikan. Hendaknya kita malu sama Allah. Kita sudah menjemput hidayah terlebih dahulu perihal kewajiaban menutup aurat, masak kita menolak menjemput hidayah krusial lainnya?

Sebenarnya tulisan ini saya dedikasikan untuk diri saya sendiri, agar lebih tahu diri. Memang sulit memulai hal baru untuk kita pilih, tapi mempertahankan untuk istiqomah itu lebih sulit lagi. Dicap sudah baik karena pakaian, tapi kelakuan masih sama saja dengan yang dulu-dulu, tidak ada peningkatan atau justru malah penurunan, malunya sama Allah tuh sungguh luar biasa.

Sudah berapa kali mengakhirkan shalat karena agenda lain? Padahal shalat kan tiang agama. Sudah berapa kali menolak permohoman orang tua, padahal berkata “ah” saja sudah tidak boleh. Sudah berapa banyak chat yang menggagalkan interaksi dengan al-Qur’an, padahal al-Qur’an adalah salah satu sarana kita berkomunikasi sama Allah. sudah berapa pagi dan berapa petang yang terlewat dzikirnya? Padahal dzikir adalah sarana kita memohon perlindungan pada Allah untuk hari itu. Sudah berapa uang yang kita buang untuk hal-hal yang mubah, padahal menabung untuk akhirat jauh lebih penting dilakukan. Sudah berapa dhuha terabaikan? Padahal dhuha adalah pembuka pintu rezeki, sarana membangun istana di akhirat. Sudah berapa sholat malam kita lewatkan hanya karena alasan lelah? Padahal Allah sedang turun ke langit dunia melihat apakah ada hambanya yang memohon pada-Nya untuk dikabulkan do’anya. Sudah berapa kajian yang kita skip? Padahal ilmu kita hanya remahan jasjus yang tertiup angin dan tersebar ke berbagai arah, sekecil itu. Sudah berapa menfaat yang kita beri kepada umat? Sedangkan hanya mengurus ini dan itu sudah mengeluh. Sudah berapa hati yang disakiti? Sudah berapa mata yang terselip masamnya muka kita ketika lelah, padahal senyum itu kan ibadah.

Yakin masih santai-santai saja dianggap istiqomah di jalan Allah? atau kita sudah mulai mengiyakan, ternyata aku seperti ini, seburuk ini, masih banyak hal-hal yang aku sepelekan. Iman itu naik turun, ada kalanya sangat bersemangat ada juga kalanya sangat tidak bersemangat. Makanya manusia sering disebut tempatnya salah, tempatnya khilaf, itu wajar. Yang tidak wajar itu ketika kita nyaman dengan diri kita yang banyak khilaf. Allah kan Maha Pengampun, dan kita juga bukan manusia super yang bisa berbuat baik terus setiap hari. Maka dari itu usahakan memohon ampunan sama Allah kalau perlu setiap kali ingat, jangan nunggu 1 hari, kelamaan.

Aurat memang mutlak ditutup, perihal pengetahuan agama yang lain akan dipelajari pelan-pelan dengan kesungguhan. Bukan malah mengecilkan ukuran, bahkan melepaskan jilbab dibenarkan untuk melonggarkan aturan agama, membebaskan diri dari belajar agama. Jilbab panjang ataupun belum panjang bukan alasan untuk kita menunda perbaikan iman dalam diri kita. Sebab apapun itu pasti butuh proses, tinggal bagaimana kita mengupayakan proses itu menjadi sebaik-baik proses untuk mendapat hasil yang diinginkan serta ridho dari-Nya.

Untuk diri saya dan pejuang surga di luaran sana, semangat selalu dalam menjemput hidayah-Nya. Semangatttt……

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...