Suatu ketika, seorang sahabat datang
kepadaku dan mengatakan hal yang tidak aku duga sebelumnya, “enak ya jadi kamu,
bisa istiqomah di jalan Allah. Boleh tahu tipsnya atau caranya gimana nggak?” Sepertinya dia sangat serius
dengan pertanyaannya, terlebih sekarang dia terlihat tertarik dengan kerudung
panjangku. Ketika ditanya seperti itu aku jadi miris dengan diriku sendiri,
selama ini banyak orang yang menganggap diri ini telah baik dan istiqomah,
padahal itu hanya karena Allah yang metutupi aib-aibku, kalau bukan karena
Allah mungkin tak ada satupun manusia yang bersedia berbicara atau bahkan hanya
sekadar bertegur sapa denganku. Tapi dia terlihat sangat bersemangat memulai
langkahnya dengan mantap berhijrah karena Allah. Dengan kata-kata dan ilmuku
yang sangat minim aku jelaskan beberapa hal untuknya, tapi aku menyarankan
padanya untuk mendengar kajian yang temanya sama dengan yang sedang ia resahkan
dan ingin dia ketahui, mengingat ilmu ku masih minim sekali, sepertinya
jawabanku tidak akan cukup untuk memuaskan pertanyaannya. Qadarullah, pagi itu
aku melihatnya sudah berkerudung panjang. “Ma syaa Allah, barakallah yaa”,
kemudian kami berlanjut mendiskusikan tentang Islam yang di hari-hari
berikutnya membuatku semakin sering merenung. Aku bersyukur, karena hal itu aku
ditampar keras, lagi-lagi Allah ingin yang terbaik untukku.
“Menjilbabi hati”, terkadang mejadi alasan seseorang
untuk menunda penjemputan hidayahnya. Padahal berjilbab panjang bukan berarti
mempunyai pengetahuan agama lebih daripada yang belum istiqomah, pun sebaliknya
belum istiqomah bukan berarti mengindikasikan orang tersebut punya paham agama
yang minim. Tapi hal tersebut bukan menjadi alasan untuk membenturkan kedua hal
tersebut, berjilbab dan berpemahaman agama yang baik adalah dua hal yang bisa
berjalan beriringan, sudah berjilbab panjang tapi membiarkan diri dengan segala
keterbatasan ilmu agama itu juga tidak baik. Semakin taat seorang hamba dengan
aturan Allah, akan semakin berat tanggungjawab yang harus diemban, sebab
penilaian orang lain terhadap kita bisa dilihat pertama kali oleh pakaian yang
kita kenakan, hal yang paling umum diperhatikan. Hendaknya kita malu sama
Allah. Kita sudah menjemput hidayah terlebih dahulu perihal kewajiaban menutup
aurat, masak kita menolak menjemput hidayah krusial lainnya?
Sebenarnya tulisan ini saya dedikasikan
untuk diri saya sendiri, agar lebih tahu diri. Memang sulit memulai hal baru
untuk kita pilih, tapi mempertahankan untuk istiqomah itu lebih sulit lagi.
Dicap sudah baik karena pakaian, tapi kelakuan masih sama saja dengan yang
dulu-dulu, tidak ada peningkatan atau justru malah penurunan, malunya sama
Allah tuh sungguh luar biasa.
Sudah berapa kali mengakhirkan shalat
karena agenda lain? Padahal shalat kan tiang agama. Sudah berapa kali menolak
permohoman orang tua, padahal berkata “ah” saja sudah tidak boleh. Sudah berapa
banyak chat yang menggagalkan interaksi dengan al-Qur’an, padahal al-Qur’an
adalah salah satu sarana kita berkomunikasi sama Allah. sudah berapa pagi dan
berapa petang yang terlewat dzikirnya? Padahal dzikir adalah sarana kita
memohon perlindungan pada Allah untuk hari itu. Sudah berapa uang yang kita
buang untuk hal-hal yang mubah, padahal menabung untuk akhirat jauh lebih
penting dilakukan. Sudah berapa dhuha terabaikan? Padahal dhuha adalah pembuka
pintu rezeki, sarana membangun istana di akhirat. Sudah berapa sholat malam
kita lewatkan hanya karena alasan lelah? Padahal Allah sedang turun ke langit
dunia melihat apakah ada hambanya yang memohon pada-Nya untuk dikabulkan do’anya.
Sudah berapa kajian yang kita skip?
Padahal ilmu kita hanya remahan jasjus yang tertiup angin dan tersebar ke
berbagai arah, sekecil itu. Sudah berapa menfaat yang kita beri kepada umat?
Sedangkan hanya mengurus ini dan itu sudah mengeluh. Sudah berapa hati yang
disakiti? Sudah berapa mata yang terselip masamnya muka kita ketika lelah,
padahal senyum itu kan ibadah.
Yakin masih santai-santai saja dianggap
istiqomah di jalan Allah? atau kita sudah mulai mengiyakan, ternyata aku
seperti ini, seburuk ini, masih banyak hal-hal yang aku sepelekan. Iman itu
naik turun, ada kalanya sangat bersemangat ada juga kalanya sangat tidak
bersemangat. Makanya manusia sering disebut tempatnya salah, tempatnya khilaf,
itu wajar. Yang tidak wajar itu ketika kita nyaman dengan diri kita yang banyak
khilaf. Allah kan Maha Pengampun, dan kita juga bukan manusia super yang bisa
berbuat baik terus setiap hari. Maka dari itu usahakan memohon ampunan sama
Allah kalau perlu setiap kali ingat, jangan nunggu 1 hari, kelamaan.
Aurat memang mutlak ditutup, perihal
pengetahuan agama yang lain akan dipelajari pelan-pelan dengan kesungguhan.
Bukan malah mengecilkan ukuran, bahkan melepaskan jilbab dibenarkan untuk
melonggarkan aturan agama, membebaskan diri dari belajar agama. Jilbab panjang
ataupun belum panjang bukan alasan untuk kita menunda perbaikan iman dalam diri
kita. Sebab apapun itu pasti butuh proses, tinggal bagaimana kita mengupayakan
proses itu menjadi sebaik-baik proses untuk mendapat hasil yang diinginkan
serta ridho dari-Nya.
Untuk diri saya dan pejuang surga di luaran
sana, semangat selalu dalam menjemput hidayah-Nya. Semangatttt……
Komentar
Posting Komentar