Langsung ke konten utama

Muhasabah Diri [Penilai Terbaik]


Kadang kesabaran kita lelah bersabar, ego kita lelah tertekan, amarah kita lelah meredam. Merasa diri sudah bekerja sekeras mungkin, tetapi tidak ada hasil yang didapat. Merasa sudah berkontribusi sebanyak mungkin, tapi justru tidak sesuai dengan ekspetasi. Merasa yang paling dan yang paling-paling tapi tidak dihargai. Pernah merasa begitu? Kalau aku sih pernah, sering malah (tapi in syaa Allah lagi belajar ikhlas sampai sekarang, karena ikhlas itu sulit. Makanya belajarnya perlu ketekunan dan perjuangan). Menyalahkan orang lain atas nilai dan stigma yang kita terima, seolah ingin mengatakan “Hei aku sudah begini aku ini sudah begitu, aku sudah kerja keras semaksimal yang aku bisa. Lantas sekarang beraninya menilaiku demikian. Hei apakah kamu tidak bisa membedakan antara peduli dengan amarah? Apakah kamu tidak mengetahui segala yang telah aku lakukan karena aku peduli padamu, pada kebaikan kita semua.” Pernah terucap kata-kata itu, atau hanya terbesit di dalam hati? Pernah seperti itu?

Pernah terpikir “apa selama ini banyak hal buruk yang sudah aku lakukan hingga tidak disukai menjadi hal yang wajar dan harus dimaklumi? Apakah 1 kesalahan dapat membuyarkan 1000 kebaikan yang telah aku usahkan? Bagian mana yang membuat orang lain sakit hati? Apa aku melewatkan episode dimana aku berbuat yang bukan-bukan terhadap mereka? Memangnya jika 1, 2, atau 3 orang saja yang mengatakannya lantas dapat ditarik kesimpulan bahwa aku ini menyebalkan? Apakah sesederhana itu menilai orang lain hanya dari satu sudut pandang? Tanpa mempertimbangkan pihak lainnya? Seegois itukah mereka? Apakah begini balasannya?”Apakah pikiran itu pernah singgah di hati kita disertai isak tangis yang cukup keras dan merasa semuanya yang telah kita korbankan hanya berbuah sia-sia.  

Kemudian kita membanding-bandingkan diri dengan yang lain. “Apakah dia lebih pantas? Dia bahkan tidak pernah peduli dengan permasalahan ini, dia bahkan tidak pernah ada sama sekali, dia bahkan hanya datang ketika butuh saja, tapi semua orang menganggap itu hal biasa. Kenapa penilaian orang lain sangat tidak adil untuk kita? Lantas apakah kita masih akan tetap memperjuangkan hal yang hanya membuat sakit batin kita?”

Perasaan berkecamuk itu membuat tidur kita tak lagi nyenyak, memikirkan hal ini hanya menambah beban pikiran. Barangkali bagi sebagian orang ini hal biasa, tapi bagi kita, tentu saja ini bukan hal biasa. Terbiasa punya banyak teman dan kenalan, membuat kita memikirkan apakah diri ini dinilai seperti itu oleh semua orang? Bukan main rasanya, sampai-sampai terbesit pikiran untuk berhenti saja. Lebih baik menghindari orang-orang yang tidak sejalan daripada harus bertahan tapi menyiksa. Toh sepertinya mereka tidak terlalu membutuhkanku. Pernah mengatakan hal itu meski hanya di alam bawah sadar?

Sampai pada akhirnya kita tersadar, kenapa kita terlalu mempermasalahkan hal ini? Astaghfirullah, istighfarlah, maka kita semakin tahu tidak perlu menyalahkan orang lain pada kesalahan diri. Apa yang selama ini kita harapkan? Pengakuan? Apresiasi? Sombong? Kurang dihargai? Atau apa? Di mana letak kesabaran kita ketika diuji? Apakah ia sedang berlari-lari di tempat lain? Di mana letak keikhlasan kita yang sering kita junjung tinggi, apakah sudah pergi meninggalkan kita sendiri? Kenapa kita begitu sombong dengan hal-hal kecil di dunia ini yang pernah kita kerjakan? Kenapa? Bahkan ketika hal tersebut kita kerjakan barangkali di luaran sana ada banyak orang yang sudah melakukan pekerjaan lebih berat tanpa memberi tahu siapapun. Bagaimana mungkin kita merasa yang paling-paling sementara kita hanyalah seorang hamba Allah diantara triliunan manusia di muka bumi, diantara sekian banyak makhluk-Nya. Seharusnya begitu mendapat kritikan harusnya kita bisa bermuhasabah diri, bukannya malah menyalahkan keadaan. Terlebih sampai berniat yang tidak-tidak. Introspeksi diri, periksa hati kita! Barangkali masih ada secuil kefuturan kita sama Allah. Barangkali kita belum melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari, makanya Allah coba ingatkan dengan hal-hal seperti ini. Allah coba tegur kita yang lemah ini.

Pasti ada yang salah dengan kita, entah niat, entah lisan, entah perbuatan, entah hati kita. “Apa ada yang salah dengan hubunganku dengan Allah? Apakah akhir-akhir ini interaksiku sama Allah sering aku skip, apakah aku jarang melibatkan Allah? Apa Allah kangen sama aku?” Seharusnya kalimat itulah yang sering kita munculkan, bukan kalimat aneh yang bukan-bukan.

Mari periksa niat kita lagi, sudahkah kita libatkan Allah untuk hal tersebut, apakah kita telah meluruskan niat kita murni untuk Allah atau hanya untuk eksistensi? Mari kita periksa hati kita, apakah di sana masih ada rasa iri dan dengki, apakah di sana masih ada futur, apakah di sana masih ada benci, apakah di sana masih ada ikhlas, apakah di sana masih ada tulus, apakah di sana masih ada niat baik karena Allah? Atau di sana sudah gersang, hanya ada hal yang buruk dan yang baik-baik sudah hilang.

Mari kita periksa lagi lisan kita, apakah sudah baik menjawab pertanyaan orang lain, apakah masih sering mengeluhkan hal yang tak sepantasnya dikeluhkan, apakah masih sering membuat nyeri perasaan orang lain, apakah lisan kita ini sudah terjaga ataukah belum? Mari periksa lagi perbuatan kita, apakah yang kita lakukan sudah tulus dan ikhlas dari hati, ataukah kita hanya sekadara haus apresiasi, apakah kita pernah menyinggung orang lain dengan apa yang kita lakukan, apakah kita bersikap seperti apa yang sering kita harapkan dari orang lain atau sebaliknya, apakah kita hanya melakukan hal tersebut karena kewajiban, bukan karena sepenuhnya untuk Allah?

Terlalu banyak yang kita pikirkan, terlalu sibuk atau sok sibuk lebih tepatnya sampai-sampai sombong dengan semuanya. Maka Allah menyentil kita dengan hal ini. Bagaimanapun juga kita tetaplah seorang hamba, Allah tidak butuh ibadah kita, tapi kitalah yang amat sangat membutuhkan-Nya. Barangkali ada banyak kegiatan yang lebih banyak mudharatnya dibanding manfaatnya, tapi bisa jadi kita tidak sadar. Barangkali memang ada yang salah dengan diri kita hingga semua orang seolah menyudutkan. Barangkali kita yang harus lebih peka dengan keadaan sekitar.

Kita mungkin yang terlalu menutup diri, tanpa bertabayun dengan orang lain, barangkali larinya terlalu kencang dan seolah meninggalkan, barangkali pikiran terlalu rumit sehingga banyak orang yang tak sejalan, barangkali teralu khawatir sehingga terlihat sangat arogan. Barangkali mereka tak jarang tersakiti oleh kita tapi pemahaman kita terbatas.

Lagi-lagi ini soal waktu, soal belajar. Walau bagaimanapun kebersamaan akan tetap menjadi harta yang tak ternilai, apalagi di jalan kebaikan. Muhasabah adalah jawaban dari semua itu. Ditambah permohonan pada Allah dan meminta maaf pada pihak-pihak yang pernah kita sakiti adalah keharusan. Saat ini tidak penting menyesali kesalahan yang telah kita lakukan sampai berlarut-larut, akan tetapi belajar jadi lebih baik setiap harinya adalah hal yang sudah seharusnya kita selalu ikhtiarkan tanpa menunggu berbuat kesalahan. Memaafkan diri sendiri itu perlu, tapi memanjakan diri dengan hal yang tidak perlu itu bukan kebutuhan. Sejatinya setiap manusia punya sisi ketidaksempurnaannya masing-masing, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi sebuah hal yang begitu berharga bagi diri kita.

"Disukai banyak orang adalah hal yang membahagiakan, tapi disukai oleh semua orang adalah sebuah kemustahilan. Membuat semua orang suka adalah hal yang sulit, tapi berikhtiar agar menjadi lebih banyak orang yang suka adalah sebuah kewajiban. Fokus perbaiki diri saja, yang paling tahu diri kita adalah Allah, Allah yang paling mengerti kita dengan segala kelemahan dan kelebihan kita, karena Allah yang menciptakan kita, dan Allah adalah sebaik-baik dan seadil-adilnya Penilai."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...