Kadang kesabaran
kita lelah bersabar, ego kita lelah tertekan, amarah kita lelah meredam. Merasa
diri sudah bekerja sekeras mungkin, tetapi tidak ada hasil yang didapat. Merasa
sudah berkontribusi sebanyak mungkin, tapi justru tidak sesuai dengan ekspetasi.
Merasa yang paling dan yang paling-paling tapi tidak dihargai. Pernah merasa
begitu? Kalau aku sih pernah, sering malah (tapi in syaa Allah lagi belajar
ikhlas sampai sekarang, karena ikhlas itu sulit. Makanya belajarnya perlu
ketekunan dan perjuangan). Menyalahkan orang lain atas nilai dan stigma yang
kita terima, seolah ingin mengatakan “Hei aku sudah begini aku ini sudah
begitu, aku sudah kerja keras semaksimal yang aku bisa. Lantas sekarang
beraninya menilaiku demikian. Hei apakah kamu tidak bisa membedakan antara
peduli dengan amarah? Apakah kamu tidak mengetahui segala yang telah aku
lakukan karena aku peduli padamu, pada kebaikan kita semua.” Pernah terucap
kata-kata itu, atau hanya terbesit di dalam hati? Pernah seperti itu?
Pernah
terpikir “apa selama ini banyak hal buruk yang sudah aku lakukan hingga tidak
disukai menjadi hal yang wajar dan harus dimaklumi? Apakah 1 kesalahan dapat
membuyarkan 1000 kebaikan yang telah aku usahkan? Bagian mana yang membuat
orang lain sakit hati? Apa aku melewatkan episode dimana aku berbuat yang
bukan-bukan terhadap mereka? Memangnya jika 1, 2, atau 3 orang saja yang
mengatakannya lantas dapat ditarik kesimpulan bahwa aku ini menyebalkan? Apakah
sesederhana itu menilai orang lain hanya dari satu sudut pandang? Tanpa
mempertimbangkan pihak lainnya? Seegois itukah mereka? Apakah begini
balasannya?”Apakah pikiran itu pernah singgah di hati kita disertai isak tangis
yang cukup keras dan merasa semuanya yang telah kita korbankan hanya berbuah
sia-sia.
Kemudian kita
membanding-bandingkan diri dengan yang lain. “Apakah dia lebih pantas? Dia
bahkan tidak pernah peduli dengan permasalahan ini, dia bahkan tidak pernah ada
sama sekali, dia bahkan hanya datang ketika butuh saja, tapi semua orang
menganggap itu hal biasa. Kenapa penilaian orang lain sangat tidak adil untuk
kita? Lantas apakah kita masih akan tetap memperjuangkan hal yang hanya membuat
sakit batin kita?”
Perasaan
berkecamuk itu membuat tidur kita tak lagi nyenyak, memikirkan hal ini hanya
menambah beban pikiran. Barangkali bagi sebagian orang ini hal biasa, tapi bagi
kita, tentu saja ini bukan hal biasa. Terbiasa punya banyak teman dan kenalan,
membuat kita memikirkan apakah diri ini dinilai seperti itu oleh semua orang?
Bukan main rasanya, sampai-sampai terbesit pikiran untuk berhenti saja. Lebih
baik menghindari orang-orang yang tidak sejalan daripada harus bertahan tapi
menyiksa. Toh sepertinya mereka tidak terlalu membutuhkanku. Pernah mengatakan
hal itu meski hanya di alam bawah sadar?
Sampai pada
akhirnya kita tersadar, kenapa kita terlalu mempermasalahkan hal ini?
Astaghfirullah, istighfarlah, maka kita semakin tahu tidak perlu menyalahkan
orang lain pada kesalahan diri. Apa yang selama ini kita harapkan? Pengakuan?
Apresiasi? Sombong? Kurang dihargai? Atau apa? Di mana letak kesabaran kita ketika
diuji? Apakah ia sedang berlari-lari di tempat lain? Di mana letak keikhlasan
kita yang sering kita junjung tinggi, apakah sudah pergi meninggalkan kita
sendiri? Kenapa kita begitu sombong dengan hal-hal kecil di dunia ini yang
pernah kita kerjakan? Kenapa? Bahkan ketika hal tersebut kita kerjakan barangkali
di luaran sana ada banyak orang yang sudah melakukan pekerjaan lebih berat
tanpa memberi tahu siapapun. Bagaimana mungkin kita merasa yang paling-paling
sementara kita hanyalah seorang hamba Allah diantara triliunan manusia di muka
bumi, diantara sekian banyak makhluk-Nya. Seharusnya begitu mendapat kritikan
harusnya kita bisa bermuhasabah diri,
bukannya malah menyalahkan keadaan. Terlebih sampai berniat yang tidak-tidak.
Introspeksi diri, periksa hati kita! Barangkali masih ada secuil kefuturan kita sama Allah. Barangkali kita
belum melibatkan Allah dalam kehidupan sehari-hari, makanya Allah coba ingatkan
dengan hal-hal seperti ini. Allah coba tegur kita yang lemah ini.
Pasti ada
yang salah dengan kita, entah niat, entah lisan, entah perbuatan, entah hati
kita. “Apa ada yang salah dengan hubunganku dengan Allah? Apakah akhir-akhir
ini interaksiku sama Allah sering aku skip,
apakah aku jarang melibatkan Allah? Apa Allah kangen sama aku?” Seharusnya kalimat
itulah yang sering kita munculkan, bukan kalimat aneh yang bukan-bukan.
Mari
periksa niat kita lagi, sudahkah kita libatkan Allah untuk hal tersebut, apakah
kita telah meluruskan niat kita murni untuk Allah atau hanya untuk eksistensi?
Mari kita periksa hati kita, apakah di sana masih ada rasa iri dan dengki,
apakah di sana masih ada futur,
apakah di sana masih ada benci, apakah di sana masih ada ikhlas, apakah di sana
masih ada tulus, apakah di sana masih ada niat baik karena Allah? Atau di sana
sudah gersang, hanya ada hal yang buruk dan yang baik-baik sudah hilang.
Mari kita
periksa lagi lisan kita, apakah sudah baik menjawab pertanyaan orang lain,
apakah masih sering mengeluhkan hal yang tak sepantasnya dikeluhkan, apakah
masih sering membuat nyeri perasaan orang lain, apakah lisan kita ini sudah
terjaga ataukah belum? Mari periksa lagi perbuatan kita, apakah yang kita
lakukan sudah tulus dan ikhlas dari hati, ataukah kita hanya sekadara haus
apresiasi, apakah kita pernah menyinggung orang lain dengan apa yang kita
lakukan, apakah kita bersikap seperti apa yang sering kita harapkan dari orang
lain atau sebaliknya, apakah kita hanya melakukan hal tersebut karena
kewajiban, bukan karena sepenuhnya untuk Allah?
Terlalu
banyak yang kita pikirkan, terlalu sibuk atau sok sibuk lebih tepatnya
sampai-sampai sombong dengan semuanya. Maka Allah menyentil kita dengan hal
ini. Bagaimanapun juga kita tetaplah seorang hamba, Allah tidak butuh ibadah
kita, tapi kitalah yang amat sangat membutuhkan-Nya. Barangkali ada banyak
kegiatan yang lebih banyak mudharatnya
dibanding manfaatnya, tapi bisa jadi kita tidak sadar. Barangkali memang ada
yang salah dengan diri kita hingga semua orang seolah menyudutkan. Barangkali
kita yang harus lebih peka dengan keadaan sekitar.
Kita
mungkin yang terlalu menutup diri, tanpa bertabayun
dengan orang lain, barangkali larinya terlalu kencang dan seolah meninggalkan,
barangkali pikiran terlalu rumit sehingga banyak orang yang tak sejalan,
barangkali teralu khawatir sehingga terlihat sangat arogan. Barangkali mereka
tak jarang tersakiti oleh kita tapi pemahaman kita terbatas.
Lagi-lagi
ini soal waktu, soal belajar. Walau bagaimanapun kebersamaan akan tetap menjadi
harta yang tak ternilai, apalagi di jalan kebaikan. Muhasabah adalah jawaban dari semua itu. Ditambah permohonan pada
Allah dan meminta maaf pada pihak-pihak yang pernah kita sakiti adalah
keharusan. Saat ini tidak penting menyesali kesalahan yang telah kita lakukan
sampai berlarut-larut, akan tetapi belajar jadi lebih baik setiap harinya
adalah hal yang sudah seharusnya kita selalu ikhtiarkan tanpa menunggu berbuat
kesalahan. Memaafkan diri sendiri itu perlu, tapi memanjakan diri dengan hal
yang tidak perlu itu bukan kebutuhan. Sejatinya setiap manusia punya sisi
ketidaksempurnaannya masing-masing, tinggal bagaimana kita mengolahnya menjadi
sebuah hal yang begitu berharga bagi diri kita.
"Disukai banyak orang adalah hal yang membahagiakan, tapi disukai oleh semua orang adalah sebuah kemustahilan. Membuat semua orang suka adalah hal yang sulit, tapi berikhtiar agar menjadi lebih banyak orang yang suka adalah sebuah kewajiban. Fokus perbaiki diri saja, yang paling tahu diri kita adalah Allah, Allah yang paling mengerti kita dengan segala kelemahan dan kelebihan kita, karena Allah yang menciptakan kita, dan Allah adalah sebaik-baik dan seadil-adilnya Penilai."

Komentar
Posting Komentar