Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin. Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...
Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya...