Langsung ke konten utama

Postingan

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...
Postingan terbaru

Menanak Nasi di Pelosok Papua

     Tangan itu, tangan yang terlihat kering, kusam, kasar dan mengelupas, meraih spidol di depan papan putih yang sudah terlihat usang, bahkan tak lagi layak disebut papan putih karena warnanya sudah berantakan oleh sisa-sisa tinta hitam yang tertinggal. Ditambah ruangan sempit berukuran 3x4 meter yang penuh dengan rak buku dan sekumpulan orang, papan itu lebih terlihat memprihatinkan. Tangannya sibuk mengalunkan huruf demi huruf, kata demi kata pada papan putih itu, melingkarinya, membuat pola, mencoretnya, dan menghubungkannya dengan panah. Ia mengotak-atik semuanya, hingga sekumpulan orang yang tengah duduk khusyu’ mengamati Pemuda itu menganggukkan kepala, pertanda bahwa paham dengan penjelasan Sang Pemuda. Kini ia beralih, matanya tertuju ke arah sekumpulan orang itu, ia kemudian menghembuskan napas seraya tersenyum di sudut bibinya sebagai tanda terimakasih. Kemudian ia melanjutkannya dengan memimpin doa, seluruh isi ruangan menundukkan kepala, menautkan tawakalnya...

Prolog 'Komparasi'

Musim telah berganti, namun parasmu tiada kabur Ia jutru membaur, bersama angan-angan yang terhambur Tawamu terdengar sampai ke negeri sebrang Pesonamulah yang menyampaikan pesan Perangaimu menembus jarak Memecah belah logikaku Sementara kini hanya ada aku Serta kenangan yang tak terkikis oleh waktu           Kala itu aku tiada sengaja menemukanmu diantara kaset-kaset kusut yang hanya menunggu pemiliknya menaruhnya di tempat yang tak akan aku jamah lagi. Kilaumu menarik perhatianku, pikirku menyelinap “siapa pula yang membiarkan kilauan emas diantara kaset kusut seperti ini?” Aku tiada henti melihatmu, mengamatimu, memperhatikanmu, klilaumu sungguh merenggut kesadaranku, hampir seutuhnya, benar-benar saat itu aku hanya melihat ke arahmu saja. Hingga beberapa menit kemudian kesadaranku menghampiriku pelan. Merenggut imajinasiku tentangmu. Membiarkannya terbang, menyisakan bayang-bayang. Aku tersadar, hingga sepenuhnya memijak bumi tempat awalku...

Motor Bapak💙

     Akhir-akhir ini aku cukup sering mengingat banyak hal tentang almarhum Bapak. Yah, kalau sedang ingat dan mulai rindu, bisanya cuma nahan sesak, nangis sendirian dan mendoakan. Tidak ada banyak hal yang bisa aku lakukan, dan aku sudah mulai membiasakan diri dengan itu. Aku punya banyak cerita menarik tentang Bapak. Sejak kecil kami memang dekat, sama halnya kedekatanku dengan ibu. Hanya saja punya porsi masing-masing. Bapak lebih banyak berperan di sekolah, prestasi, karir dan hal lainnya. Sedangkan ibu lebih banyak soal cinta monyet, pertemanan, dan konser Shawn Mendes sebelum aku terjun bebas di dunia perkpop an :)).       Seperti yang sudah aku jelaskan, bapak lebih banyak mengambil peran di urusan pendidikan. Salah satunya pendidikan mengantar jemput 😆. Sejak SD aku sudah sering diantar bapak, padahal jarak rumah ga ada 1 KM, jalan kaki 5 menit pun sampai. Bukan apa-apa, tapi bapak juga kerja di sana jadi ya kalau bisa nebeng mengapa harus ja...

Mengakhiri Sebelum Memulai (Dari Binar)

  Sudah lama, sudah terlalu lama, sampai saya lupa rasanya seperti apa. Kalau tidak salah, 5 tahun lalu saya pernah di posisi ini. Posisi yang mengharuskan saya untuk lebih teguh menjaga hati, yang membuat saya tiada henti senyum-senyum sendiri. Saya pikir ini akan segera berlalu, mengingat saya juga sudah tak seperti dulu. Saya yang sekarang lebih memilih berhati-hati, apalagi perkara hati. Saya juga lebih bisa mengontrol emosi, memastikan bahwa saya tidak akan berlebihan menaruh hati. Tidak lagi-lagi saya semaikan benih-benih harapan, membiarkannya semakin hari semakin berkembang. Tidak, saya yang sekarang sudah pandai dalam urusan cinta, tidak gegabah mengakui bahwa dia yang paling sempurna, berpikir jauh melihat realita, bahwa perasaan saya mungkin saja hanya akan berhenti di saya, dan tidak akan berlanjut kemana-mana. Maka tidak akan saya biarkan cerita ini menjadi cerita yang panjang, selagi kita masih ditakdirkan berjalan menuju masing-masing tujuan. Saya ingin mengakhiri ra...

Surat Untuk Masa Depan, Dari Untuk Aku

            Hallo Wawah, tanggal 01 Januari nanti kamu akan memasuki usia 21 tahun. Angka yang tak pantas disandingkan dengan candaan atau semua hal yang serba sia-sia. Angka yang seharusnya mampu menempamu lagi dan lagi, terus dan terus, semakin dan semakin mendewasa. Ingatkah, bagaimana Almarhum Bapak mendidikmu? Bermodalkan kesabaran yang luas dan do’a yang tiada henti setiap harinya, kau tumbuh hingga saat ini. Tumbuh sebagai seorang putri yang membawa harapan, mimpi, dan cinta dari banyak orang. Wah, untuk kesekian kalinya, pada paragraph pertama tulisan ini izinkan diri untuk melantunkan ucapan terimakasih. Terimakasih sudah berjuang sejauh ini, tahun 2020 kemarin adalah tahun yang begitu menguras air matamu, namun kau dengan sigap menyapunya meski berat mencoba menjadi ikhlas semaksimal yang kau bisa. Wah, terimakasih karena sudah tetap menjadi cahaya yang begitu terang, mengukir senyum di bibir banyak orang, masih sama seperti Wawah yang biasan...

Perihal Lepas dan Mengikhlaskan #1

“Fin, dalam hidup ini kita diharuskan buat menentukan pilihan kan? Tapi kenapa ya soal mengikhlaskan kadang aku gatau, gimana milih cara yang tepat buat melepasnya.” Kata Binar di sudut kamar kost berukuran 3,25 x 3,5 meter. Ia mengatakan hal tersebut sendirian, dan sekelebat memori berupa paras seseorang muncul. “Fin, aku nggak pernah mengira bahwa segala yang pernah ada ini ternyata memang hanya akan sia-sia. Enggak peduli seberapa dalam rasa yang pernah kita punya, perasaan ini emang ga seharusnya ada. Kalau tahu sedari awal, mungkin aku nggak akan berani mengenalmu, tidak pula mencoba mengamati bagaimana karaktermu, apalagi sampai tahu segala tentangmu.” “Hari itu, saat kamu melemparkan pertanyaan, sebenarnya aku ingin mengatakan kalau aku mau menunggu. Tapi itu bukan hakku Fin. Aku sama sekali tidak tahu menahu, apakah 5 tahun lagi aku masih dengan perasaan yang sama, keadaan yang sama, dan kesehatan yang sama. Aku benar-benar mengkhawatirkan semuanya, aku terlalu ...