Biasanya kita
berusaha menyiapkan sebaik mungkin untuk ujian kenaikan tingkat. Lalu,
bagaimana dengan ujian hidup yang datangnya tidak bisa kita tebak? Bagaimana kita
menyiapkan mental dan kesabaran yang lapang untuk ujian tersebut? Jujur, aku
adalah orang yang tidak pernah memikirkan tentang ujian atau musibah yang bisa
membuat hidupku seolah tidak dapat berlanjut. Aku adalah orang yang merasa
hidupku sedari kecil tidak pernah mendapati cobaan maupun musibah yang terlalu
berat. Tapi akhir-akhir ini sebegitu derasnya ujian dalam hidupku. Entah aku
harus bersyukur atau bersabar, atau bahkan dua-duanya. Aku bingung harus
berbuat seperti apa untuk menyelesaikan semua masalahku. Sebegitu beratkah
rasanya mendapat ujian yang cukup berat untuk pertama kalinya. Aku ingin marah,
tapi dengan siapa? Aku ingin bersegera menyelesaikannya, tapi mulai dari mana?
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (al Baqarah/2:155-157)
Ya Allah, maafkanlah aku
karena terlalu banyak mengeluh, bahkan sampai ingin menyalahkan orang lain atas
cobaan yang Engkau berikan. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, aku kehilangan
barang yang sangat amat berarti dengan segala macam tugasku yang ada di
dalmnya. Selang beberapa hari aku harus membayar uang yang cukup untuk makan 20
kali, untuk mengganti tugas yang belum aku lakukan, dan di hari itu juga aku
sedang menunggu pengumuman beasiswa yang hasilnya tidak sesuai dengan yang aku
harapkan. Dalam kurun waktu 1 minggu masalahku semakin berbelit, dan hampir
semuanya masalah ekonomi. Aku bingung harus memulai darimana untuk menceritakan
semuanya kepada orang tua ku. Aku harus meminta uang yang tidak sedikit untuk
menyelesaikan semuanya. Berat, karena bapak hanya seorang PNS yang gajinya
tidak lebih dari setengah gaji asli, ibuk hanya petani yang lebih sering merugi
daripada meraih untung, sedangkan kakak sudah berumah tangga yang memberi uang
hanya karena aku minta, tapi sampai kapan aku meminta? Lalu, aku harus gimana? Bagaimana
menyelesikan satu-persatu masalah yang beruntun ini.
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (al Baqarah/2:286)
Dari ayat tersebut aku banyak mendapat hikmah
akan setiap jalan hidup yang harus aku lalui saat ini. Saat dimana aku harus
belajar ikhlas dan mengerti akan artinya kehilangan. Aku punya mulut yang
terlalu banyak mengeluh. Aku punya rasa syukur dengan indikator yang tinggi,
sehingga terlalu sering menganggap bahwa hidupku tidak seberuntung orang lain.
Kotor sekali diri ini dengan segala macam kekurangan yang ada. Dan dari situlah
aku mulai tersadar mengapa Allah berikan cobaan itu. Lalu aku mulai menerka
pelajaran apa yang bisa aku ambil dari kejadian ini. Saat aku harus berjuang
mengumpulkan uang untuk mengumpulkan satu demi satu rupiah yang aku bebankan
pada diri. Aku tidak seharusnya berputus asa dengan masalah yang sedang aku
hadapi sekarang. Mungkin Allah sedang menyiapkan kejutan untukku dengan segala
macam skenario indahnya. Aku sudah banyak melakukan kesalahan dengan
menyalahkan berbagai pihak atas masalahku sendiri. Untuk itu aku harus
memperbaiki diri serta dapat memenejemen emosi yang kadang berlebihan. Aku juga
belajar menjadi pribadi hemat karena boros itu sifatnya setan. Selain itu, aku
sedang berusaha melatih diri untuk menjadi pebisnis muda aamiin. Bismillahirrohmanirrohim,
doakan aku untuk bersegera menuntaskan masalah ini ya…. Jazakumullah khairan
katsiran. Hamasah Lillah untuk aku, kamu, dan kita semua!!!!!!
Rasulullah SAW bersabda : “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah. Segala sesuatunya lebih baik. Tampakanlah terhadap hal-hal yang bermanfaat bagimu dan minta tolonglah kepada Allah dan janganlah engkau menjadi tak berdaya.” (HR. Muslim)
Komentar
Posting Komentar