“Bermimpilah setinggi langit, jika engkau
terjatuh, engkau akan jatuh diantara bintang – bintang” Ir.
Soekarno
Kata – kata yang selalu terngiang di
telinga saya. Saya yang kala itu masih berumur 17 tahun 2 bulan 13 hari dengan
cerita hidup yang biasa saja. Tak seperti kebanyakan remaja yang menghiasi masa
SMA nya dengan penuh cerita cinta seperti kisah Dilan dan Milea, bukan juga
anak SMA yang menghiasi dunianya dengan life goals yang terkesan ambis
akan kesuksesan di masa mendatang. Saya siswi biasa saja di SMA yang biasa saja
pula, SMA Kabupaten yang terletak diantara sungai dan persawahan dengan jalan
kecil yang tidak bisa disebut jalan raya. Hari - hari saya yang begitu - begitu
saja terkesan lurus jalannya tanpa ada tanjakan, turunan, belokan, apalagi
pertigaan dan perempatan, tidak ada tantangan selama saya menghirup udara di
dunia ini. Suatu ketika saya mulai berpikir, akan sampai kapan saya hidup
seperti ini? Akankah saya mengisi hidup saya hanya untuk belajar sesuai yang
orang tua saya inginkan? Akankah saya hanya berteman dengan orang - orang yang
sejalan dengan apa yang saya pikirkan? Akankah saya hanya akan menerima semua
takdir Allah sekalipun saya bisa mengubah takdir tersebut? Pertanyaan semacam
ini terus muncul dalam hati saya. Sepertinya saya harus mengubah mindset yang
telah saya anut bertahun - tahun. Saya harus memulai untuk membentuk mimpi,
angan, cita, harap, serta tips dan trik untuk merealisasikannya. Awalnya terasa
aneh ketika seorang saya harus seserius ini memikirkan tentang masa depan,
karena jujur saja, saya adalah orang terhumoris dengan recehan - recehan
andalan yang tak sempat merenungi tujuan hidup, prinsip hidup atau semacamnya.
Saya bahkan tidak tertarik pada buku bacaan yang mengaitkan kesuksesan dengan
niat yang dipupuk sedari kecil, yang saya tau saya ini adalah salah seorang
yang beruntung bisa mengenyam bangku SMA tanpa harus punya prestasi yang WOOWW.
Namun, dengan tegas saya mengetakan bahwa "Saya harus berubah",
entah karena apa saya membebankan kalimat itu pada diri bernama Wahida ini.
Saya mencoba mencari prinsip dan tujuan hidup yang sebenarnya.
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
Dari situlah saya mengetahui bahwa
apapun mimpi dan keinginan yang akan kita raih adalah salah satu jalan untuk
beribadah kepada-Nya. Bukan untuk mencari pujian orang lain, teman yang baik,
atau kesuksesan duniawi saja. Mimpi - mimpi ini adalah bentuk ibadah kita
kepada Allah serta jalan menuju ridho-Nya. Sampai akhirnya entah darimana
datang keinginan untuk berkuliah di Universitas terbaik di Indonesia
"Universitas Gadjah Mada". Bagi sebagian orang ini adalah mimpi yang
terlalu tinggi untuk direalisasikan. Bukan hanya itu, segala macam omongan,
cacian, dan kata - kata yang membuat saya semakin kehilangan motivasi sempat
terlempar di telinga saya. Mungkin juga, karena hal itu saya nekad untuk
mendaftar SBMPTN di UGM. Saya ingin membuktikan bahwa saya ini bisa! Tapi saya
juga mengalami masa dilema dalam menentukan jurusan selayaknya siswa yang lain,
dan dari situlah saya mulai terus mencari jurusan yang sekiranya dapat
bermanfaat bagi orang banyak. Sampai akhirnya terbesit sebuah profesi yang
sangat ibu saya sukai yaitu "Perawat". Dari kecil memang ibu saya lah
yang sangat menginginkan anaknya untuk berkarir di bidang kesehatan, namun saya
selalu menolak karena merasa bukan passion saya. Anehnya saya tiba -
tiba jatuh cinta dengan profesi ini dan memantapkan hati untuk menempatkannya
di pilihan pertama sewaktu SBMPTN. Waktu berlalu sangat lama, hari - hari saya
dihiasi dengan do'a - do'a dari keluarga saya agar anak terakhirnya bisa kuliah
di universitas dan jurusan yang diinginkan. Hingga tiba saatnya ketika
pengumuman SBMPTN pun tiba, saya tidak berekspetasi banyak karena sudah
berlapang dada dengan qadarullah apapun hasilnya. Lalu inilah hasil yang saya
dapatkan dari kerja keras 1 bulan lebih disertai omongan yang kurang berkenan:
Skenario Allah sangatlah indah dan
sangat sulit ditebak. Rasa syukur yang terus terucap tiada henti dari lisan
yang kotor ini. Lagi - lagi dibalik semua ini adalah ujian, yeeahhh memang
benar ujian kadang bisa berupa nikmat yang terlihat sangat indah. Ini amanah
yang besar untuk saya, sekali saya berbuat hal yang tidak sesuai itu berarti
saya telah lalai atas amanah yang saya pegang ini. Ini adalah ujian, menjadi
mahasiswi keperawatan adalah ujian, bahkan menjadi perawat profesional
sekalipun itu adalah ujian juga bagi saya. Bagaimana saya nanti bisa menolong
pasien-pasien saya tanpa sedikitpun mendzolimi mereka adalah amanah yang sangat
berat di punggung saya yang lemah ini. Tapi saya percaya dengan niat, ikhtiar,
serta tawakal. Allah tidak akan pernah mengecewakan makhluk-Nya jika kita juga
sadar diri hidup ini mau dibuat seperti apa dan beratas dasar apa. Niatkan
semua karena Allah SWT, teruslah berusaha untuk meluruskan niat meskipun sulit,
meskipun lelah.
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah." (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Saya bukan orang yang dianugerahi IQ
tinggi, bukan pula orang yang rajin tanpa sifat malas sedikitpun, bukan juga
kutu buku yang tidak peduli lingkungan sekitar. Saya hanya orang biasa yang
kebetulan bersekolah di SMA yang biasa pula dengan prestasi yang biasa - biasa
saja. Hanya bedanya, saya adalah orang yang berani memimpikan memetik salah
satu bintang di langit yang kemudian saya merealisasikannya di dunia nyata
dengan niat yang kuat, usaha yang cukup menguras tenaga, tantangan yang berat,
serta do'a-do'a yang terus mengalir dari orang-orang tersayang. Jangan patah
dulu! Kita tidak pernah tahu cara apa yang bisa kita lakukan untuk membuat
sebuah mimpi lurus lagi setelah bengkok karena cobaan, bahkan sekalipun mimpi
kita patah, kita tidak pernah tahu dengan cara apa kita dapat menyambungnya
kembali. Hanya bagaimana kita menemukan cara - cara tersebut.
Ibn Al-Jauzi memberikan saran yang sangat realistis bagi kita semua. “Sekiranya engkau bisa melewati setiap sosok ulama dan ahli zuhud, maka lakukanlah. Karena mereka adalah manusia (biasa), dan engkau pun juga manusia (biasa). Dan tidaklah seseorang duduk (berpangku tangan) kecuali dikarenakan hina dan rendahnya cita-cita.”

Komentar
Posting Komentar