Langsung ke konten utama

Mengenal Cinta


Hasil gambar untuk mengenal cinta    
Cinta bagiku adalah perasaan yang sangat amat rumit untuk dijelasakan hanya dengan sebuah kata-kata. Bahkan, detik ini ketika aku menulis hal tentang cinta, aku masih memikirkan definisi yang tepat untuk menggambarkan rasa bernama “Cinta” ini. Ketika mendengar kata “Cinta” yang aku pikirkan hanyalah dua orang manusia, laki-laki dan perempuan yang oleh Allah ditakdirkan untuk bersama-sama mencari rdho-Nya. Tapi, mengapa aku hanya memikirkan hal itu? Sementara aku mempunyai Allah yang sangat amat mencintaiku meski kadang aku tidak setia kepada-Nya, aku punya Rasulullah yang sangat mencintaiku bahkan sekalipun kami tidak pernah bertatap muka. Aku punya dua orang hebat yang selalu mencintaiku bernama Bapak dan Ibuk meskipun aku selalu menghabiskan uang bulanan di pertengahan bulan. Aku juga punya kakak laki-laki hebat yang mencintaiku meskipun aku selalu meminta uang ketika pertengahan bulan. Aku punya keluarga besar yang sangat amat mencintaiku meskipun aku tidak hafal nama dan alamat mereka masing – masing. Aku punya sahabat dan teman yang sangat mencintaiku meskipun aku selalu numpang di kost mereka, kadang lupa sama tugas kelompok, suka tidur di kelas, suka maksa, bawel, kalau berbicara tidak pernah disaring, suka minjam uang, dan banyak kekuranganku yang lain. Lalu, masihkah kita berpikir cinta hanya dimiliki oleh sepasang kekasih? Apakah kita masih berpikir bahwa hidup kita hampa tanpa cinta hanya karena kita tidak memiliki kekasih, sementara kita menghirup oksigen dengan gratis serta nikmat sehat yang kita miliki? Pada dasarnya aku (mungkin kamu juga) kurang rasa syukur dengan menganggap “hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga”. Nyatanya hidup kita penuh dengan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan kalau kita mau mensyukurinya. Mengenal cinta “tak kenal maka ta’aruf” kata-kata yang sering diplesetkan oleh jombloers. Kita ada di dunia ini, di dalam tubuh dengan nama kalian karena berdasar oleh cinta. Pertama kenali cinta Allah kepada kita.
مَنْ عَرَفَ اللهَ بِأَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ أَحَبَّهُ لاَمَحَالَةَ
Barang siapa yang mengenal Allah melalui nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya, pasti dia akan mencintai-Nya!” (Ibnul Qayyim, Al-Jawabul Kafi)
Mau sampai kapan kita terus meragukan cinta Allah kepada kita yang benar adanya? Justru yang perlu kita ragukan adalah rasa cinta kita kepada Allah. Sudahkah kita mencintai Allah melebihi apapaun? Tanyakan pada diri kita masing-masing! Karena yang paling tahu seberapa besar kita mencintai Allah hanya Allah dan diri kita. Kemudian setelah kita mencintai Allah kewajiban kita adalah mencintai Rasulullah SAW.
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Ali ‘Imran: 31].
Di antara tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya. Termasuk cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah menolak dan mengingkari semua bentuk bid’ah, karena setiap bid’ah adalah sesat. Renungi, apakah kita termasuk salah seorang yang telah mencintai Rasulullah? Untuk cinta yang selanjutnya adalah cinta kedua orang tua kita.
عَنْ عَبْدُ الله بن عَمْرٍو رضي الله عنهما قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم: رِضَى اللهُ فى رِضَى الوَالِدَيْنِ و سَخَطُ الله فى سَخَطُ الوَالِدَيْنِ ( اخرجه الترمذي وصححه ابن حبان والحاكم) 
"Dari Abdullah bin ‘Amrin bin Ash r.a. ia berkata, Nabi SAW telah bersabda: “ Keridhoaan Allah itu terletak pada keridhoan orang tua, dan murka Allah itu terletak pada murka orang tua”. (HR. Tirmidzi)
 Bisakah kita bayangkan seberapa orang tua mencintai kita, sampai-sampai Allah SWT menempatkan keridhoan-Nya terletak pada keridhoan orang tua. Sudahkah kita mencintai mereka yang bermandikan peluh, ikhlas tanpa batas menjaga kita, mengalirkan do’a-doa’a yang terbaik bagi anak mereka serta mengesampingkan diri sendiri. Dan kita masih sempat berbohong tentang hal kecil kepada mereka? Kita masih enggan jika dimintai pertolongan, kita masih melupakan kewajiban menelfon hanya untuk memberi mereka kabar dari perantauan. Tanyakan pada hati kecil kalian masing-masing lalu berjanjilah untuk memperbaikinya (ini juga self reminder buat aku). Kemudian cinta yang selanjutnya adalah cinta kepada sadara kita
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Dari Anas r.a. bahwa Nabi SAW bersabda, "Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri" (H.R Bukhari)
Kakak bagiku adalah laki-laki terbaik bersanding dengan bapak. Meskipun kami sering terlibat cekcok hal-hal yang tidak penting, berebut kamar mandi dan hal lainnya, akan tetapi dia yang selalu memberikan aku nasihat yang kadang membuatku jadi semakin yakin tentang kepetusan yang akan aku pilih. Kakak adalah sosok jurnalis hebat yang tidak kuduga diam-diam dia mengenal bapaknya seseorang dan akrab dengan beliau. Sampai kadang aku merasa dia adalah detektif sejati wkwkwkwk. Untuk cinta yang berikutnya adalah cinta kepada sahabat.
Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya, merendahkannya, menyerahkan (kepada musuh) dan tidak menghinakannya.” (HR Muslim)
Apakah kita telah memperlakukan sahabat kita sesuai dengan apa yang mereka perbuat? Kadang jeleknya diri ini kalau diberi kebaikan oleh sahabatnya justru malah memanfaatkan. Coba mulai sekarang perlakukan mereka selayaknya mereka harus diperlakukan. Bayangkan, mereka telah berbuat 1000 kebaikan lalu hanya karena 1 kesalahan kita menganggap mereka sudah menzalimi kita. Mencoba memaafkan memang kadang sulit, tapi percayalah bahwa mereka adalah orang-orang yang baik. Selanjutnya adalah cinta kepada sesama muslim.
“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (HR Muslim)
Sebegitu kuatnya cinta dan persaudaraan kaum muslimin. Lalu apa yang telah kita lakukan untuk membantu mereka di luar sana yang sedang bertahan hidup di tengah peperangan? Bukankah kita sangat beruntung hidup di lingkungan yang nyaman dan tenteram. Bagaimana dengan mereka yang menjadi minoritas bahkan hanya melaksanakan kewajiban untuk beribadah saja mereka harus belagak seperti pencuri. Do’a yang kita anggap sepele ternyata sangat istimewa. Kita mungkin belum bisa mengungkapkan cinta kita kepada mereka dengan menggenggam tangan mereka dengan erat, tapi kita bisa memeluk mereka dengan do’a-do’a yang kita alirkan terus-menerus. Ada banyak cinta di dunia ini yang belum bisa aku paparkan satu persatu. Hanya bagaimana kita bisa memahami sesungguhnya tentang cinta, yang berlandaskan cinta karena-Nya. Bahkan cinta kepada seekor semut yang kecil pun itu adalah sebuah cinta. Lalu, sudahkah kita mengenal cinta yang sesungguhnya?
Bahwasanya cinta yang bersih dan suci (murni) itu, tidaklah tumbuh dengan sendirinya – Buya Hamka




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Restu

Ya Allah, di bawah bulan malam ini aku terduduk, berdiam diri, tapi bahkan aku tidak sendiri. Aku berdo’a padamu untuk menguatkanku, sampai aku tahu dan menemukan jawaban dari tiap do’aku. Bilapun bukan dia, tak apa Ya Allah, tapi berikan aku kekuatan dan berkahmu. Udara pantai pada malam itu begitu dingin.   Membekukan tulang-tulang dan menusuknya. Angin terus berhembus, menggulirkan udara-udara malam yang tersisa. Anehnya kedua gadis itu malah kesesakan. Padahal bibir pantai yang sepanjang itu hanya dihuni oleh mereka saja, tapi entah mengapa rasanya begitu sesak. Semakin sesak karena desiran air terdengar menyeramkan. Apa yang dipikirkan mereka hingga memberanikan diri mengunjungi pantai yang sepi pada malam hari berdua, tanpa pakaian hangat menyelimuti. Hanya memakai kardigan saja, begitu tipis karena rajutannya tak rapat dan menyisakan celah-celah yang lebih terlihat seperti lubang raksasa. Ditambah lagi dengan sekumpulan paku tidak tahu diuntung yang dengan sengaja mengoyak...

Bahagianya Merayakan Cinta

Bulan Desember 2019 kali ini cukup berbeda, seratnya terasa, kesendiriannya pun sama. Begitu banyak sahabat yang berbahagia merayakan cinta, meski aku masih begini saja. Tapi tak apa, akupun terhanyut, ikut mengalir bersama derasnya gelombang bahagia oleh mereka yang saling mencinta. Yang patutnya cinta itu ikhlas tulus karena-Nya.  Tulisan ini aku dedikasikan untuk kakakku, kami hanya sebatas teman di dunia maya, tapi qadarullah hari ini Allah pertemukan kami, di tempat resepsinya, dan betapa bahagianya aku melihat anggunnya perempuan yang tutur kata, perilaku, paras, senyum, dan nasihat-nasihatnya selaras dengan nama cantiknya "Maryam". Ya tulisan ini khusus untuk Mba Maryam meskipun tak menutup kemungkinan akan dibaca oleh seluruh Indonesia.  Tentang rahasia, takdir, dan cinta. Barangkali tiada yang pernah menyangka bahwa dua hati yang 3 tahun bersama di sekolah yang sama sudah Allah gariskan di lauh mahfudz untuk juga bersama-sama menggapai surga-Nya. Saling seret-...

Catatan Pendek Untuk Perjalanan yang Panjang

Mengapa sempat terbesit kata ragu dalam menentukan pilihan, padahal yang membedakan muslim dengan yang bukan ia punya iman dan Allah di hatinya. Pada akhirnya aku memilih memulai untuk berani menyerukan “kebaikan”. Satu kata yang menggetarkan raga, yang harus diperjuangkan tanpa boleh ditawar. Sebab itulah aku melibatkan diri di jalan ini, menyelami dinamika bersama orang-orang yang in syaa Allah akan mencariku apabila aku tak ditemukan di surga nanti. Semesta tahu, detik ini sedang ada air mata muncul dari tangan-tangan yang meneladah menghadap dan memohon ridho dari Allah SWT agar setiap langkahnya menjadi berkah. Air mata itu dijatuhkan mengiringi proses yang dilalui, agar setiap langkahnya dapat diberkahi. Harapan dari air yang mengalir deras ke pipi, tiada lain hanya untuk melihat senyumnya di Jannah nanti, saling menyapa dan menemukan kemenangan yang nyata.  Detik ini, ikhtiar dan tawakal telah didengungkan dalam hati, bahkan jauh sebelum aku menulis tu...